Cerita Dari Rumah

“April dlu Ramadhan gini bagi2 takjil.”

Sungguh terharu hati ini saat dimention teman di social media. Saya tidak menyangka ajakan yang pernah saya lakukan itu kebaikan yang masih dikenang baik oleh teman-teman.

Saya jadi mengingatnya kembali. Tiga tahun berlalu semenjak tahun kelulusan kami. Tahun terakhir sebagai mahasiswa, saya menggalang donasi di kalangan mahasiswa fakultas untuk buka puasa yatim piatu dan kaum dhuafa tepat Bulan Ramadan. Mendadak inisiasi ini saya lakukan sengaja sebagai bentuk syukuran akan berakhirnya masa menjadi mahasiswa. Acara sengaja saya pilih setelah hari yudisium saya dan tim skripsi. Awalnya sempat ragu apa bisa mencapai target dana yang diinginkan, wajar saja waktunya seminggu sebelum hari H. Nyatanya, Alhamdulilah, berhasil memenuhi target. Mulai bagi-bagi nasi kepada tukang becak di pusat kota di waktu senja, dilanjut bertandang ke panti asuhan. Senang rasanya menutup acara dengan bersenang-senang bersama anak-anak yatim.

Saya sungguh berterima kasih tidak terhingga kepada teman-teman kuliah yang sudah membantu hingga semuanya berjalan lancar. Kalau bukan karena teman-teman yang juga berdonasi selain dari luar, dana tidak akan tercapai. Semasa jadi mahasiswa masih mudah untuk menggalang dana karena lingkaran pertemanan masih kental. Namun ketika lepas sebagai mahasiswa dan sudah jadi wanita karir, agak susah membuat penggalangan donasi seperti dulu, yah seharusnya sudah sepantasnya kalau bersedekah memakai dana pribadi sih.

Bulan Ramadhan banyak orang berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan bersedekah. Siapa yang tidak ingin mendapatkan pahala yang berlipat di bulan yang penuh kemuliaan ini. Diingatkan kembali oleh teman saya di sosmed, ingin sekali saya berbagai takjil juga nasi kepada mereka yang membutuhkan di Bulan Ramadhan. Namun tahun ini beda gegara virus COVID 19 melanda dunia, keuangan saya jadi kocar kacir. Sungguh saya tidak bisa mengeluarkan uang untuk beli ini itu dan melaksanakan keinginan tersebut.

Kakak saya pun mengeluh gimana susahnya mencari uang di masa pandemi ini. Meski begitu dia masih sempat bersedekah. Tahun ini kakak saya membagikan nasi selametan kepada para tetangga dan sanak keluarga sebagai bentuk megengan menjelang Bulan Ramadhan. Biasanya tradisi megengan ini diselenggarakan di masjid, tapi karena masa pandemi yang melarang pergi ke tempat ibadah, kakak berinisiasi untuk membagikan langsung ke rumah-rumah. Kakak saya lainnya, seorang wirausaha, kerap membagikan sembako di Hari Jum’at juga memberikan bonusan seperti mukena kepada pelanggannya. Ah, melihat iri sekali saya ingin seperti mereka. Namun sekali lagi, keuangan yang ada hanya buat makan saja, dan itu saya sudah merasa beruntung.

Masa pandemi ini membuat saya ya agak dongkol sih dengan kondisi budget pas-pas. Sempat ngeluh kepada Allah SWT, gimana mau berbuat baik kalau tidak punya uang lebih?

Tahu nggak, kalau kita punya niat baik pasti ada jawaban yang datang. Saya mendapat jawabannya seakan bohlam lampu bersinar di atas kepala. Aha! kalau mau bersedekah nggak punya uang, kan bisa pakai harta benda yang dimiliki.

Lalu saya hanya kepikiran dengan makeup dan skincare yang saya miliki.

Merapikan dan Memilah Produk yang Akan Dibagikan

Setahun sudah saya menyukai dunia makeup. Semenjak ikut Beauty Class, saya mulai meningkatkan skill berdandan dan bergabung dengan komunitas. Sehingga sekarang koleksi makeup sudah tidak terkira banyaknya memenuhi kotak penyimpanan, terutama lipstik. Aneh juga sih, saya yang anaknya cuek jadi suka dandan, hahaha. Tidak hanya mengenal makeup, saya jadi suka merawat kulit dengan skincare. Coba-coba pakai skincare, trial eror pakai skincare ini itu yang bisa cocok di kulit wajah. Tidak disangka, kecintaan saya terhadap keduanya membuat barang-barang itu makin menumpuk di kamar.

Jarang saya membereskan barang-barang tersebut saking sibuknya. Nah pas stay at home di masa pandemi gini, saya jadi punya waktu luang. Tumpukan kotak-kotak makeup dan skincare saya bongkar kembali. Ada skincare yang belum habis karena memang tidak tidak lanjut pemakaian, makeup baru yang belum kepakai pun ada. Botol-botol skincare yang sudah habis masih kesimpan, saatnya harus dibuang. Yang membuat saya kaget, lipstik yang sudah lewat masa kadaluarsa. Lanjut saya memilah milih dan menempatkan produk mana yang bakal dipakai dan yang tidak akan dipakai. Lumayan produk-produk yang berantakan bisa rapi kembali. Rak yang juga menyimpan skincare pun, jadi gampang dibuka pintu setelah sebelumnya tidak mudah bukanya karena beberapa produk di dalamnya nyangkut, dan saya males membereskan sebelumnya.

Sejatinya saya mengoleksi makeup agar bisa jadi seorang perias. Namun melihat banyaknya makeup yang masih belum kepakai dan juga susah kadaluarsa menjadikan saya ingin membagikan beberapa di antaranya. Yang jelas bukan membagikan yang kadaluarsanya. Takutnya kalau barang-barang itu nggak segera dipakai bakalan jadi kadaluarsa juga kan? Saya jadi merelakan mimpi menjadi MUA dengan melepas beberapa produk makeup.

Membagikan Produk Secara Cuma-Cuma

Bagi wanita, khususnya yang sudah berkarir, pastinya menyiapkan dana untuk beli skincare atau juga makeup sebagai perawatan kulit hampir setiap bulannya. Wajar saja wanita ingin tampil cantik. Saya sadari di masa pandemi yang menjadikan beberapa wanita mungkin susah mencukupi kebutuhan sekundernya untuk tampil cantik dikarenakan gaji yang jadi pas-pas an atau berkurang. Makanya dengan saya bagi-bagi produk makeup dan skincare yang tidak kepakai bisa bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan juga berguna dalam memangkas pengeluaran.

Mereka yang sudah terima

Tidak hanya membagikan produk kepada teman-teman online, saya juga mengirimi saudara di luar kota berupa makeup.

Aslinya kakak yang tinggal serumah dengan saya akan mengirimkan beberapa pakaian lebaran untuk keponakannya di Solo. Yah karena si COVID 19 bikin keluarga di Solo nggak bisa mudik ke kampung halaman. Saya ikut menyelipkan makeup khusus kepada kakak ipar. Dia seorang freelancer MUA. Meski cuma ngasih satu Item makeup sih setidaknya bisa menambahi koleksinya yang bisa bermanfaat ketimbang saya diamkan di kamar tanpa kepakai. Juga saya tambahin voucher belanja, ini saya dapatkan karena menang giveaway. Karena vouchernya cuma bisa kepakai untuk Mall, sedangkan kota saya tidak ada Mall, jadi saya berikan saja kepadanya.

Membuka Sale For Charity

Hasil Penjualan yang Disumbangkan Sebagai Donasi

Mengapa Pilih Donasi ke Dompet Dhuafa?


Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition “Ceritaku Dari Rumah” yang Diselenggarakan oleh Ramadhan Virtual Festival dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s