Gambaran Perpustakaan Kekinian Ya Unsyiah Library

“Cabut yuk!”

Baru lima menit mengisi daftar kunjung, Lirna teman fakultas yang saya temani datang ke perpustakaan sudah mengajak pergi. Bukan tanpa alasan, referensi buku yang direkomendasikan dosennya sebagai tugas tidak dijumpai di antara buku-buku yang tertata di dalam rak. Petugas perpustakaan sudah kami tanyai mengenai buku yang kami inginkan ternyata buku tersebut jumlahnya sedikit dan semuanya telah ada yang meminjam.

“Lalu mau ngapain lagi di sini?” Bantah Lirna ketika saya ingin sejenak berada di ruangan ini dulu karena sudah terlanjur sampai sini.

Perpustakaan bagi Lirna tempat yang membosankan. Dia bukan tipe mahasiswa yang betah terdiam sepanjang waktu di dalam ruangan dengan para insan yang tertunduk menghadap lembaran buku. Kalau bukan karena buku yang disarankan dosennya, dia tidak bakalan berkunjung ke perpustakaan. Bisa dihitung jemari dalam setahun berapa kali dia kemari.

Lain dengan saya. Perpustakaan kampus sudah seperti kos-kosan kedua saya. Saksi bisu perjuangan hingga meraih gelar sarjana.

Apakah kalian mengira saya anak yang jenius yang senang membaca di perpustakaan? Oh tidak begitu. Sebenarnya saya jarang membaca di sana. Ya karena koleksi bukunya minim, bahkan ada lembaran yang terlepas membuat saya tidak tertarik membacanya. Kebanyakan buku tua keluaran lama dan tak terawat yang mengisi deretan rak tinggi itu. Sebenarnya sebagian besar yang saya lakukan di perpustakaan adalah belajar melalui laptop. Ya bahan-bahan mata kuliah yang saya cari bukannya lewat buku malah dari browsing Internet. Aliasnya lagi saya di sana itu hanya numpang wifi dan ngcharge saja, hahaha. Itu kalau gasebo yang biasanya tempat nongkrongnya mahasiswa dan kencang wifinya sudah penuh dipakai, terpaksa saya pindah ke perpustakaan. Ya meskipun jaringan internet di perpustakaan begitu lemot.

Kesan kuno dan suram dengan tumpukan buku-buku lama yang tertumpuk dalam rak-rak tinggi membuat sedikit orang yang berkunjung ke perpustakaan. Saya beranda-andai semisal perpustakaan tidak sekedar tempat si kutu buku membaca, ada nggak ya? Kalau ada sih banyak teman yang tidak suka dan malas berkunjung ke perpustakaan jadi senang bertandang akhirnya.

Nyatanya ada loh perpustakaan kampus yang tidak ketinggalan zaman dan menarik minat mahasiswa berkunjung. Fakta ini saya dapatkan dari mbah google tentunya. Yakni Perpustakaan Unsyiah. Wah kayak gimana sih Perpustakaan nya? Pada penasaran ya kan?

Kenalan Yuk Dengan Perpustakaan Unsyiah

Berada di ujung Pulau Sumatera yakni Banda Aceh, Perpustakaan Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH) sudah berdiri semenjak tahun 1970. Perpustakaan berstatus sebagai Unit Pelayanan Teknis (UPT) pada tahun 1980. Awalnya perpustakaan ini masih menggunakan gedung fakultas Ekonomi hingga akhirnya pada tahun 1994 perpustakaan Unsyiah memiliki gedung sendiri yang didirikan berdampingan dengan Kantor Pusat Administrasi (KPA) Unsyiah.

Dari UPT. Perpustakaan Unsyiah inilah, saya mendapatkan gambaran perpustakaan kekinian seharusnya. Representasi untuk menggambarkan perpustakaan itu sejatinya harus educate, captivate, connect (mendidik, memikat dan menghubungkan).

Educate

Pernah mendengar kisah tokoh terkenal yang menghabiskan waktu di perpustakaan gegara ingin mengejar ketertinggalan teman kuliahnya? Tak berselang lama, kemampuannya pun di atas rekan sesama ya bahkan mampu mewakili dosennya memberikan ceramah di beberapa negara. Mereka itu di antaranya adalah Jawaharlal Nehru, Abraham Lincoln dan Daud Ibrahim.

Berkaitan dengan pendidikan, perpustakaan memang tempat belajar yang dipenuhi dengan ilmu pengetahuan bersumber dari buku-buku. Namun jika kumpulan buku-buku itu ketersediannya terbatas bagaimana? Kuantitas buku sejatinya bisa berpengaruh dengan kualitas pembacanya. Ini yang membuat saya merasa tidak bisa leluasa mengambil pengetahuan baru jika isi perpustakaan hanya terbatas. Mau jadi cendekiawan layaknya Abraham Lincoln kan tidak tergapai.

Nah, kalau berkunjung ke UPT. Perpustakaan Unsyiah, banyak koleksi buku yang disediakan. Bakalan bisa menghabiskan waktu membaca buku apa saja. Koleksi tersebut tersebar dalam berbagai jenis, meliputi buku teks, terbitan berkala (jurnal), laporan akhir, skripsi, tesis, disertasi, majalah, buku referensi, laporan penelitian, CD-ROM dan dokumentasi. Sebanyak 75.114 judul atau 136.925 eksemplar dihadirkan di Perpustakaan Unsyiah. Koleksi pada perpustakaan juga tidak hanya terbatas pada koleksi tercetak saja, namun perpustakaan juga telah melanggan e-book dan e-journal pada beberapa penerbit internasional. Nah, cocok kan buat anak milenial yang kerap mengakses Internet bisa baca buku perpustakaan secara online.

Layaknya cendekiawan yang menghabiskan diri membaca buku di perpustakaan hingga malam, Perpustakaan Unsyiah juga membuka jam layanan tambahan malam loh. Mahasiswa yang mesti begadang pastinya bakalan menghuni perpustakaan demi mengejar deadline tugas. Ini nih yang bikin kutu buku bakalan bisa leluasa membaca, dan tentunya memacu daya baca semakin maju. Biasanya jam 4 sudah saya sudah harus buru-buru keluar dari perpustakaan, wah kalau ke Perpustakaan Unsyiah beda ceritanya ya. Selain buka sampai malam, Hari Sabtu dan Minggu juga buka loh perpustakaan ini. Dua hari libur kuliah yang sangat bagus dimanfaatkan mahasiswa belajar di perpustakaan. Dengan kuantitas buku dan jam buka yang leluasa, makanya nggak heran Perpustakaan Unsyiah ini tempatnya ramai sebagai tempat membaca dan diskusi.

Captive

Perpustakaan kekinian itu nggak sekedar mendidik, nggak sekedar tempatnya kutu buku membaca saja. Apa jadinya jika main ke perpustakaan bisa nonton film layaknya berada di bioskop beneran? Wah kalau ini saya beneran suka menjadikan perpustakaan tempat terfavorit. Bahkan siapapun yang malas ke perpustakaan dijamin bakalan berkunjung.

Perpustakaan itu memang seharusnya captive alias memikat jadinya pengunjung tertarik datang tidak sekedar untuk membaca.

Demi menggiatkan semangat Literasi, Perpustakaan Unsyiah kerap menayangkan film bermutu. Didukung oleh Perpusnas yang membantu menyediakan atau meminjamkan filem filem berbagaimacam genre, dan jenis untuk ditayangkan.

Seperti tahun lalu 2019, Perpustakaan Universitas Syiah Kuala menggelar pemutaran film-film terkait sejarah islam selama bulan Ramadhan. Salah satunya adalah film Journey to Mecca. Ditindaklanjuti dengan diskusi film yang tujuannya adalah untuk membuka khazanah baru bagi penonton. Pemutaran film layaknya di gedung bioskop ini dilakukan di Ruang Adnan Ganto Multimedia Center Unsyiah.

Perpustakaan Unsyiah juga menghadirkan cafe loh. Pas banget kan jadi tempat nongkrongnya mahasiswa. Nggak akan deh kelaparan atau kehausan kalau sedang belajar. Duh dulu saya ke perpustakaan kampus mesti menahan lapar. Seru ya Perpustakaan Unsyiah jadi ajang berkumpul. Sambil minum kopi, masih bisa berdiskusi dengan teman.

Connect

Selera milenial harus diikuti di zaman sekarang. Anak milenial yang sukanya terhubung dengan smartphone juga terkoneksi dengan Internet, maunya tuh sewa buku serba cepat tanpa antri. Layanan perpustakaan pun harus merespon kebutuhan ini.

Begitu yang dilakukan Perpustakaan Unsyiah yang menyediakan perpustakaan digital yakni dengan menghadirkan aplikasi UILIS Mobile yang merupakan Online Book-Booking. Hebatnya aplikasi Android ini adalah Tugas Akhir mahasiswa Ryan Aulia, Teknik Elektro 2014.

Perpustakaan Unsyiah memiliki Duta Baca loh. Nggak cuma ada Duta Kampus, nyatanya perpustakaan punya perwakilannya ya. Dia ini yang menghubungkan mahasiswa Unsyiah dengan Perpustakaan Unsyiah. Seperti kala LOCT (Library Orientation Class and Tour) sebagai agenda rutin perpustakaan universitas Syiah Kuala kepada mahasiswa baru untuk mengenalkan fasilitas di perpustakaan, duta baca melakukan pendampingan terhadap mereka.

Hebatnya Duta Baca Perpustakaan Unsyiah punya prestasi loh! Bersama perpustakaan, Duta Baca mendapatkan Plakat Penghargaan dari Menteri Hukum dan HAM RI dalam Pemenuhan Hak Anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak LPKA.

Tidak hanya terhubung dengan mahasiswanya, Perpustakaan Unsyiah juga terhubung dengan masyarakat umum. Agenda tahunan diselenggarakan Unsyiah Library Fiesta yang memuat berbagai macam lomba yang meningkatkan kreativitas. Kompetisi ini bisa diikuti oleh peserta luar daerah selain peserta dalam kampus. Tahun ini Unsyiah Library Fiesta 2020 menyelenggarakan kompetisi mulai lomba shelving buku, debat Bahasa Indonesia, cipta puisi, baca puisi hingga akustik.

Wah, tampak nyaman ya belajar di Perpustakaan Unsyiah. Gambaran perpustakaan kekinian memang tepat diperuntukkan kepadanya. Buat yang pengen menghabiskan waktu di sana, UPT Perpustakaan Unsyiah juga dibuka buat umum loh!

Ingin rasanya saya terbang ke Banda Aceh dan mengunjungi Perpustakaan Unsyiah.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition Unsyiah Library Fiesta 2020 bertema “Educate, Captivate, Connect”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s