Meneropong Kampung Pulo yang Sarat Akan Nilai Budaya & Pengalaman Bersejarah Garut

Adobe_Post_20191023_001841.png

Kekayaan alam dan budaya Indonesia sangatlah kaya yang tidak akan ada habisnya untuk dikupas. Lebih dari 300 kelompok etnis atau suku bangsa yang negeri ini miliki. Jelas terlihat dari jumlah tersebut bahwa suku bangsa merupakan salah satu aset Indonesia. Saya jadi bertanya, “Sudahkah kita mengenal budaya Indonesia?” Salah satu cara yang tepat untuk mengenali dan mempelajari kekayaan leluhur Tanah Air, maka berwisatalah.

Setiap sudut di negeri ini memang menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia dengan sajian pemandangan yang indah. Berkunjunglah ke Garut, Surga dari Timur, yang memiliki pesona alam menakjubkan dengan kontur yang sangat eksotis yang terbentang terdiri dari dataran tinggi disempurnakan dengan hawa yang sejuk dan bersih. Saking indahnya sampai-sampai menarik seorang komedian legendaris abad ke-20 asal Inggris yang kerap tampil dalam komedi bisu penuh tingkah kocak itu datang ke Garut.

“Mustahil Si (Charlie) Chaplin sampai berkunjung dua kali ke Garut bila pemandangan daerah ini tidak indah dan memikat hati”

Charlie Chaplin dalam film bisu, The Kid (1921). (Wikimedia Commons).

Dikutip dari quote Haryoto Kunto yang dijuluki “kuncen Bandung” dalam buku monumental karyanya Seabad Grand Hotel Preanger, 1897-1997. Kata-kata tersebut menohok hati bagi orang Indonesia asli yang belum ke sana seperti saya yang memang sekalipun belum pernah menginjakkan kaki di tanah Sunda. Mungkin kalian yang belum pernah sama sekali main ke Garut, yuk kita jangan kalah dengan Chaplie Caplin! Setidaknya sekali seumur hidup harus main ke Garut.

Wah, siapa yang sangka legenda perfilman itu datang ke Garut. Kali pertama ia datang pada tahun 1932 (ada sumber yang menyebut tahun 1926 dan 1927) ditemani saudaranya, Sydney Chaplin dan tahun 1936 (sumber lain menyebut tahun 1935 dan 1938) bersama aktris Paulette Goddard. Kunjungan Charlie Chaplin menjadi tantangan bagi saya untuk datang langsung ke Garut dan menjawab sendiri atas pertanyaan apa yang menarik dari Garut.

Garut, Dijuluki Swiss Van Java Hingga Surga dari Dunia Timur

Foto : indonesia.tripcanvas.co

Mendengar kata kota Garut, yang terbesit di benak saya yakni kotanya dodol dan pusatnya kerajinan berbahan kulit. Memang keduanya mewakili kekhasan kota Garut. Ternyata ada Garut lebih dari sekedar itu. Dalam buku tersebut terkait “sejarah” dua edisi liburan Charlie Chaplin. Garut kala era 20-an itu terkenal sebagai Paradijs van het Oosten (Surga dari Dunia Timur). Dari kawasan kaki Gunung Cikurai, Gamplang, terlihat jelas Kota Garut dikelilingi pegunungan mulai Gunung Papandayan, Gunung Guntur, Gunung Talaga Bodas, serta Gunung Sadahurip yang terkenal dengan sebutan Gunung Piramida. Gunung Papandayan pun dinilai mirip Pegunungan Alpen di Swiss, namun tentunya tanpa salju. Garut layaknya kota-kota di Swiss yang juga dikelilingi pegunungan. Dari Gamplang pula, nampak Sungai Cimanuk meliuk membelah Kota Garut, seperti Sungai Aare yang membelah Ibu Kota Swiss, Bern. Rupanya kemiripan bentang alam Garut dengan Swiss dinilai oleh seorang Belanda bernama Holke van Garut (seorang gubernur kesayangan pemerintah Belanda pada tahun 1930-1940) dan melihat kabupaten ini berpotensi sehingga dijuluki sebagai ”Switzerland van Java” sehingga dijadikan kota wisata. Jadi tahu kan bagaimana miripnya Garut dengan Swiss?

Tidak hanya wisata alamnya yang disajikan, Garut juga memiliki wisata budaya. Garut menawarkan pengalaman wisata budaya terbaik dan tidak biasa. Salah satunya berlibur ke desa adat bisa jadi pilihan tepat yakni Kampung Pulo.

img_20191024_0951535012326969789005080.png

Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa harus berwisata ke kampung adat? Menyambangi kampung tradisional makin mendekatkan kita dengan wajah bangsa Indonesia yang masih memegang teguh tradisi dan hidup seperti nenek moyang mereka.

Hasil gambar untuk kampung pulo
Pintu masuk Kampung Pulo. Foto : travel.kompas.com

Setiap daerah mempunyai adat masing-masing yang satu sama lain tidak sama, begitu pula dengan Kampung Pulo yang masih menjunjung adat. Budaya yang dimiliki Kampung Pulo menjadi daya tarik yang patut dijamahi. Rasakan interaksi antara orang, bangsa dan etnik ketika berbaur dengan masyarakat Kampung Pulo. Itu yang menyatukan kita sebagai warga Indonesia.

Kampung Pulo merupakan salah satu perkampungan yang mempunyai perkembangan adat istiadat setelah melalui proses akulturasi agama Islam. Dinamakan Kampung Pulo karena tempatnya memang berada di dalam pulau. Tepatnya di Pulau Panjang di tengah Situ Cangkuang, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Jangan anggap kampung adat ini biasa-biasanya. Di balik kampung ini tersimpan cerita, sejarah dan budaya yang menjadi sesuatu yang unik dan menarik.

img_20191024_0958008654423073204022639.png

  • Hidup dalam Harmoni dengan Alam

Sejuknya suasana pedesaan jauh dari hiruk pikuk kendaraan. Sungguh asri suasana kampung yang membuat tempat ini sangat nyaman dikunjungi. Pulau Panjang yang dikelilingi danau, rasakan sensasi menyenangkan menaiki rakit kala menuju Kampung Pulo. Memang untuk mencapai pulau ini hanya rakit yang bisa mengantarkan.

Hasil gambar untuk kampung pulo garut
Rakit menuju Pulau Panjang. Foto : wisataria.com

Nikmati alam yang indah. Di kampung ini, kita serasa berkawan dengan alam.

Hasil gambar untuk kampung pulo garut
Keasrian Kampung Pulo. Foto : tiket.com
  • Menyelusuri Sejarah Penyebaran Islam dan Peninggalan Hindu

Mengupas sejarah suatu tempat bagi saya menarik untuk dipelajari. Yang langsung jadi pertanyaan saya yakni “Bagaimana cikal bakal Kampung Pulo ini?”

Adalah Eyang Embah Dalem Arief Muhammad yang turut andil mendirikan peradaban di sekitarnya di sini. Siapa sih Eyang tersebut?

Konon, Eyang Embah Dalem Arief Muhammad merupakan panglima perang Kerajaan Mataram yang ditugaskan oleh Sultan Agung untuk menyerang VOC di Batavia. Namun, karena kalah dan takut mendapatkan sanksi apabila pulang ke Mataram, beliau memutuskan untuk bersembunyi di Desa Cangkuang. Setelah menikahi puteri Hindu yang cantik jelita, beliau tinggal di sana dan mulai menyebarkan agama Islam. Kala itu masyarakat Kampung Pulo masih banyak yang menganut agama Hindu serta animisme dan dinamisme. Namun perlahan bisa diIslamkan oleh Embah Dalem Arief Muhammad. Bukti keberadaan Islam di Kampung Pulo dengan didirikannya mushola di tengah kompleks tersebut. Meskipun Islam sudah menjadi pegangan hidup penduduk Cangkuang, khususnya di Kampung Pulo, Embah Dalem Arief Muhammad tetap menghargai adat atau kebiasaan penduduk setempat. Siapa sangka, dari kampung ini, penyebaran agama Islam pertama di wilayah Cangkuang maupun Garut itu bermula.

Peninggalan Hindu pun masih nampak dengan berdirinya Candi Cangkuang yang berada dalam satu kompleks dengan Kampung Pulo. Di dalamnya terdapat arca Siwa. Diperkirakan candi peninggalan Hindu ini sudah ada sejak abad ke 7-8 M. Pada saat itu di Cangkuang banyak terdapat candi yang sudah rusak dan tidak terpelihara. Meskipun penduduknya sudah beragama Islam, disisakan satu candi sebagai peringatan bahwa dahulu di tempat tersebut pernah ada pemeluk Agama Hindu. Bersyukur sekali, kemegahan candi itu bisa kita lihat.

Hasil gambar untuk kampung pulo garut
Candi dan makam bersebelahan. Foto : travel.detik.com

Sebagai leluhur kampung Pulo, Arif Muhammad dimakamkan di makam kuno. Keberadaan makam bisa dikunjungi, persis sekira 3 meter dari Candi Cangkuang. Makam ini seperti menggambarkan kerukunan antar umat beragama karena berdampingan dengan Candi Cangkuang yang merupakan bangunan Hindu. Menarik sekali kan bisa melihat candi dan berziarah ke makam secara bersamaan?

Dekat makan keramat tersebut dipamerkan bukti penyebaran dan pengajaran agama Islam oleh Embah Dalem Arief Muhammad dalam museum kecil. Terdapat naskah Alquran dari abad XVII dari daluang atau kertas tradisional dari batang pohon saeh, dan  naskah kotbah Idulfitri dari abad yang sama sepanjang 167 sentimeter yang berisi keutamaan puasa dan zakat fitrah. Juga beberapa benda antik, dan lukisan berukuran besar yang digambarkan sebagai sosok Embah Dalem Arief Muhammad.

Dijamin perjalanan wisata ke Kampung Pulo tidak sekedar liburan saja. Banyak sejarah yang bisa dipelajari di sini.

  • Menangkap Kesederhanaan dari Penduduk Kampung Pulo

Setiap kedatangan pengunjung ke kampung ini, para pemuka adat akan memberikan sambutan berupa salam atau berjabat tangan. Bercengkeramalah dengan penduduk Kampung Pulo. Nikmati senyum sapa mereka dalam kesederhanaan yang rendah hati. Kita bisa mengamati keseharian orang-orang Kampung Pulo.

Hasil gambar untuk kampung pulo garut
Aktivitas penduduk Kampung Pulo. Foto : travel.detik.com
  • Memotret Kenangan Dalam Foto

Area Kampung Pulo bisa dijadikan menjadi spot berfoto. Kampungnya unik dengan hanya terdiri tujuh bangunan saja. Mengabadikan momen berkesan pada saat liburan tentunya tidak bisa dilewatkan.

  • Sempatkan Membeli Kerajinan dan Makanan Khas

Penduduk  Kampung Pulo membuat kerajinan tangan dari kayu sumpit/pinus, bambu, dan batok kelapa berupa candi, rumah adat, rakit, bebecaan dan perhau. Mereka pula menjual makanan khas dari Kampung Pulo yaitu gogodoh, burayot, opak,  dan ranging (rangginang mernakai kinca). Akan menyenangkan sekali membawa pulang oleh-oleh khas tangan warga itu.

img_20191024_0958122332773893417565968.png

Kenapa Kampung Pulo dikenal sebagai Kampung Adat? Itu karena masyarakatnya masih mempertahankan kebiasaan atau tradisi yang mereka warisi dari nenek moyang mereka. Kampung Polu memiliki budaya dan adat-istiadat yang tidak terpengaruh oleh cepatnya laju perkembangan teknologi. Konsistensi penduduk tersebut dalam mempertahankan budaya leluhur tentu sangat menarik untuk dikunjungi. Adat istiadat tersebut antara lain yang berkaitan mata pencaharian, daur hidup dan keberadaan tempat-tempat yang dianggap keramat. Masyarakat Kampung Pulo juga mengenal pamali sebagai istilah melanggar pantangan yang harus dipatuhi penduduk itu sendiri maupun para wisatawan yang datang. Bahkan meskipun penduduknya sudah masuk Islam, mereka tetap mempertahankan keyakinan yang berhubungan erat dengan adat istiadat. Menarik untuk ketahui! Nggak heran sih ini yang menjadi daya tarik Kampung Pulo destinasi wisata. Nah apa saja pantangan yang dianggap tabu? Dan apa pula tradisi uniknya?

Rumah tradisonal Kampung Pulo. Foto : Jurnalposmedia.com
  1. Tidak Boleh Lebih 6 Kepala Keluarga

Sistem kekeluargaan di masyarakat Kampung Pulo terdapat 6 kepala keluarga dan enam buah rumah. Sebuah kampung kecil, bukan? Bukan  penduduknya yang meninggalkan kampung ini hingga tersisa sedikit yang memukimi kampung tersebut namun lebih karena jumlah tersebut sudah menjadi ketentuan adat. Bahwa dalam adat Kampung Pulo, jumlah rumah dan kepala keluarga itu harus enam orang sehingga tidak boleh menambah kepala keluarga.

Loh kalau lebih anggota keluarganya bagaimana? Nah, misal anak lelaki sudah dewasa dan menikah, paling lama dua minggu mereka hidup di sana setelah pernikahan, lalu harus keluar meninggalkan rumah tempat asalnya. Dia bisa kembali keasalnya asalkan salah satu keluarga (bapak/ibu) meninggal dunia dengan syarat harus anak wanita dan ditentukan atas pemilihan keluarga setempat. Tujuan diberlakukan jumlah kepala keluarga ini untuk menjaga kelestarian tradisi adat Kampung Pulo bagi mereka tinggal di kampung. Jadi yang tinggal di sini tidak boleh keluar dan jangan sampai meninggalkan kampung dengan alasan apapun meskipun untuk mencari nafkah.

  1. Bentuk Pemukiman yang Unik dengan Tujuh Bangunan

Dengan 6 kepala keluarga yang bermukim di Kampung Pulo maka enam rumah pula yang didirikan. Jadi kompleks tersebut terdiri atas  enam rumah adat ditambah satu musala sebagai tempat ibadah.  Rumah-rumah tersebut merupakan rumah panggung dengan pembagian 3 rumah di sisi kanan dan 3 rumah di sisi kiri yang saling berhadapan. Tujuh bangunan tersebut sudah ada sejak abad ke-17.

Hasil gambar untuk kampung pulo garut
Kompleks Kampung Pulo. Foto : evventure.com

Itu simbol putra-putri Eyang yang memiliki tujuh anak, enam diantaranya perempuan dan satu laki-laki. Kala itu rumah-rumah tersebut diperuntukan bagi anak perempuannya. Sementara musala untuk satu-satunya anak laki-laki. Hingga saat ini  harus tetap tujuh pokok bangunan, dan kedua deretan rumah tersebut tidak boleh ditambah ataupun dikurangi.

Hasil gambar untuk kampung pulo garut
Mushola adat Kampung Pulo. Foto : travelingyuk.com
  1. Hanya Anak Perempuan yang Menerima Warisan

Yang makin membuat unik Kampung Pulo, hanya anak perempuan yang bisa menerima warisan bukannya anak lelaki. Ada kisah di balik tradisi itu. Bermula dari keturunan Embah Dalem Arief Muhammad yang anak laki-laki satu-satunya, si bungsu, meninggal saat mau disunat. Saat itu diadakan pesta besar dilengkapi dengan arak-arak sisingaan yang diiringi musik gamelan menggunakan gong besar. Tanpa disangka, bencana muncul. Mendadak angin badai menyapu semua peralatan acata dan menimpa anak tersebut. Lalu ia terjatuh dari tandu, sehingga menyebabkan anak Eyang tersebut meninggal dunia. Kemunculan angin besar lantaran ada salah seorang yang menabuh gong besar. Padahal sebelumnya sudah diperingati dilarang menabuh gong besar

Dan Eyang mewarisi rumah adat kepada anak perempuannya yang paling tua. Sehingga yang berhak menguasai rumah- rumah adat adalah wanita dan diwariskan pula kepada anak perempuannya. Sistem kekeluargaan di Kampung Pulo ini pun mengikuti garis Ibu. Makanya anak lelaki yang sudah menikah di Kampung Pulo harus segera meninggalkan kampung dalam batas 2 minggu.

Peristiwa naas yang menimpa anak laki satu-satunya dari Eyang Embah Dalem Arif Muhammad pun menjadi pembelajaran dan membuat adanya tradisi serta aturan. Beberapa aturan adat lainnya pun dijalankan sejak saat itu, seperti ketika melakukan pesta tidak boleh menabuh gong besar.

  1. Keturunan Asli Penyebar Agama Islam

Orang-orang dari Kampung Pulo mengklaim bahwa mereka adalah keturunan Eyang Embah Dalem Arif Muhammad yang, seperti umumnya mengatakan, seorang penyebar agama Islam di di kampung ini. Eyang Embah Dalem Arif Muhammad menyebarkan agama islam dimulai dan berpusat di Desa Cangkuang ini. Saat ini Kampung Pulo ditempati oleh generasi kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh turunan Eyang tersebut. Total keseluruhan penduduknya terdiri dari 23 orang diantaranya 10 perempuan dan 13 lak-laki.

  1. Pantangan Ziarah Hari Rabu

Jika ingin mengunjungi Kampung Pulo dan sekaligus melihat makam Eyang Embah Dalem Arif Muhammad, janganlah di Rabu. Ada pantangan yang melarang untuk tidak ziarah di hari tersebut.

Hasil gambar untuk kampung pulo garut
Makam Embah Dalem Arif Muhammad. Foto : travel.kompas.com

Hari itu dikeramatkan dan sebagai hari yang kelam. Menurut sejarah pada hari itulah hari naas putra bungsu Eyang. Hari itu pula dulu penduduk sekitar tidak diperkenankan bekerja berat dan hari tersebut juga dipergunakan Embah Dalem Arif Muhammad untuk mengajarkan agama sehingga beliau tidak menerima tamu. Tetapi seiring dengan perkembangan Islam hari rabu masih dianggap hari sakral namun penduduk Kampung Pulo tetap melakukan aktifitas ataupun pekerjaan yang rutin dilakukan. Uniknya lagi Hari Rabu di Kampung Pulo hitungannya beda pakai Hitungan Jawa Sunda. Hitungannya begini, Selasa ba’da ashar sudah masuk rabu. Rabu ba’da ashar sudah masuk Kamis. Nah, buat yang mau kemari, ini tipsnya!

  1. Tidak Diperkenankan Beternak

Sudah tahu kan kalau masyarakat adat ini dilarang mencari mata pencaharian di luar kampung? Jadi apa profesi mereka?

Masyarakatnya bekerja dengan bertani dan berkebun. Namun mereka tidak diperkenankan untuk beternak hewan besar berkaki empat seperti kambing, kerbau, dan sapi. Alasannya dikhawatirkan takut hewan tersebut merusak sawah dan juga kebun mereka. Selain itu juga, di daerah desa tersebut banyak terdapat makam keramat, sehingga ditakutkan hewan-hewan mengotori makam. Meskipun ada larang tersebut, masyarakat adat tetep diperbolehkan kok memakan atau menyebelih hewan besar berkaki empat

  1. Tidak Meninggalkan Tradisi Hindu

Sebagai pemeluk agama Islam, nyatanya penduduk Kampung Pulo tidak meninggalkan tradisi Hindu. Beberapa kegiatan pun masih dilakukan seperti halnya setiap tanggal 14 bulan Maullud mereka tetap melaksanakan upacara adat memandikan benda-benda pusaka seperti keris, batu aji, peluru dari batu yang dianggap bermakna dan mendapat berkah.

Selain keempat poin yang saya sebutkan di atas, masih ada lagi loh beberapa larangan yang tidak boleh dilanggar oleh penduduk Kampung Pulo. Antara lain dilarang membangun rumah beratap Jure, harus pacuan dan anyaman bambu untuk dinding dalam model; dan sistem pewarisan harus matrilineal, dan sebagainya. Tradisi tersebut masih tetap dipertahankan hingga kini. Jika larangan-larangan itu dilakukan, musibah besar bakal datang mengingat kejadiaan naas yang menimpa anak lelaki Eyang itu.

img_20191024_0951412705965731298746326.png

Mainlah ke Garut, rasakan atmosfer tanah pasundan ini. Jadikan Kampung Pulo daftar kunjungan apabila ke Garut. Sejenak keluar dari padatnya aktivitas perkotaan dan masuk ke dalam kampung bernuansa alam. Jelajahi Kampung Pulo yang penuh dengan adat budaya dan sejarah. Kisah masa lalu yang mengingatkan siapa dan apa pula sebenarnya kampung ini berasal. Dengan mengenali dan mendatangi Kampung Pulo, kita melestarikan kenanekaragaman masyarakat dan budayanya.

Foto : tripadvisor.com

Datanglah kapan saja. Terbuka mulai pukul 07.00-17.00 WIB. Hanya perlu membayar mulai dari Rp 3 ribu untuk turis lokal dan Rp 5 ribu untuk turis mancanegara, sudah bisa menjelajah Kampung Pulo. Lihat langsung suasana Kampung Pulo dengan 6 rumah adat dan sebuah mushola. Mampirlah juga ke Candi yang berdekatan dan makam yang tak jauh darinya.

Kedua mata ini tak sabar untuk melihat langsung. Kedua kaki ini tidak sabar untuk menjelajah. Kedua tangan ini tidak sabar menjabat tangan penduduknya dengan ramah. Semoga diberikan kesempatan untuk menyambangi Kampung Pulo.

Ayo rencanakan liburan ke Garut! Liburan antimainstrem siap menyambut di Kampung Pulo!


Sumber :
https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/travel/read/2018/01/20/140000427/asal-usul-kampung-pulo-garut-kampung-dengan-7-bangunan
 https://www.indonesia.go.id/ragam/budaya/kebudayaan/asal-usul-candi-cangkuang-kampung-pulo-dan-islam-di-garut
https://m.detik.com/travel/domestic-destination/d-3024021/di-garut-juga-ada-kampung-pulo-ini-penampakannya
Ratih, D. Komunitas Kampung Pulo Di Cangkuang Kabupaten Garut (Perkembangan Adat Istiadat Setelah Masuknya Islam). Jurnal Artefak.

adobe_post_20191022_2359083861556597512416001.png

Artikel ini diikutsertakan dalam WRITINGTHON JELALAH KOTA GARUT OLEH BITREAD PUBLISHING DAN DIDUKUNG PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s