Berburu Tiket Mudik Lebaran Tanpa Drama

Mudik alias mulih dilik (pulang sebentar) merupakan salah satu tradisi orang Indonesia untuk bisa pulang merayakan lebaran bersama keluarga. Namun, kebayang nggak ketika hampir nggak bisa mudik? Itu yang pernah saya alami.

Hasil gambar untuk shock
Sumber : housegoeshome

“Lebaran pasti pulang kan? Udah pesan tiket?”

Pesan yang masuk dari mas tiba-tiba melandaku. Tidak pernah aku merasakan kekhawatiran untuk pulang kampung selama kuliah karena masih seprovinsi. Tapi berbeda ketika aku ‘terlempar’ melewati dua provinsi demi pekerjaan setelah lulus kuliah. Bandung. Bekerja di perusahaan swasta tentunya tanggal cuti bersama berbeda dengan karyawan pegawai negeri yang sudah jelas, aku pun hanya menunggu-nunggu jadi belum mengurus tiket mudik.

“Kalau nggak pesan dari sekarang, bakalan susah.”

Kepanikan menyerang kembali dari pesan tersebut.

“Kamu tuh baru masuk kerja kok udah mau mudik.” Jawaban enteng dari Bu Bos ketika kutanyakan kapan jadwal cuti keluar, serasa aku nggak diperbolehkan pulang. Sebagai satu-satunya karyawan yang jauh sendiri asalnya, aku menjadi dilema, sementara karyawan lainnya santai karena rumah mereka masih sekitar Bandung dan Jawa Barat yang bisa dijangkau motor.

Sebulan menjelang lebaran tidak kunjung juga jadwal keluar. Baru di pertengahan bulan keluar jadwal, hati ini sedikit lega. Satu-satunya transportasi yang terpikir adalah bis. Untungnya bisa dapat melalui agen. Tapi entah kenapa petaka datang, jadwal mudik diubah. Dari yang H-5 menjadi H-4. Oh, no! Oh, Bu Bos kenapa kau begini! Hangus tiket bisku. Kucoba hubungi agen, sudah tidak ada tiket lagi. Dari tempat lain, pun juga tidak ada tiket. Kalaupun aku nekad pulang duluan H-5, bisa-bisa aku dipecat. Aku kudu piye?

“Bisa pulang kan?”

Pesan dari mas mempertanyakan kembali. Entah harus bagaimana membalas pesan ini. Tidak tega jika harus memberitahukan orang rumah jika aku gagal pulang.

Sebagai anak perempuan satu-satunya dan anak bungsu, juga satu-satunya anak yang merantau jauh, durhaka rasanya jika lebaran tidak bisa berkumpul. Sejak tahun 2012, kami telah menjalani perayaan lebaran tanpa kehadiran bapak. Jika tahun ini aku pun tidak berkumpul, bakal menambah kesedihan mamak. Aku jadi kangen mamak melebihi sebelumnya. Sosok wanita setengah baya yang masih kuat bekerja dari pagi hingga sore berjualan ikan laut. Wajahnya yang tampak letih dan langsung tertidur selepas Isya. Wanita itu yang menjadi alasan aku harus pulang. Satu-satunya orangtua yang masih kumiliki. Tegakah aku tidak kembali?

“Karena nggak bisa pulang. Ya sudah kamu ikut aku saja di Sumedang.” Salah seorang rekan kerja menawariku pulang ke rumahnya. Membayangkan lebaran bukan dengan keluarga, aku tidak mau. Toh, aku kan masih di Jawa, masih sepulau yang masih bisa dijangkau dengan kendaraan darat. Mungkin beda kali ya kalau beda pulau, yang membutuhkan biaya banyak untuk naik pesawat. Bayangan malam takbiran sampai hari lebaran bakalan nangis bombay kangen rumah, aku nggak mau merasakannya jika sendirian di mess!”

Untungnya dapat travel setelah sekian travel yang susah dihubungi dari searching google, itu pun pakai diiringi doa. Lanjut perjuangan mudik yang sungguh melelahkan. Macet, macet, macet. Dua kali naik travel, Bandung-Jogja, Jogja-Pacitan (kotaku). Itu pun hampir kehabisan cari travel dari Jogja. Dua puluh lima jam total perjalanan sampai rumah, rasanya bokong ini panas duduk terus. Jatah libur lebaran yang hanya 6 hari dihabiskan dengan 2 hari perjalanan pulang pergi saja, jadi di rumah hanya 4 hari saja. Nggak kebayang waktu terbuang di jalanan. Yang harusnya 1/2 hari saja di jalan, dan 1/2 sudah di rumah berkumpul dengan keluarga.

Mudik yang sungguh MELELAHKAN!!!

Belajar dari pengalaman mudik lalu, saya ingin merencanakan kepulangan lebih baik lagi. Nggak mau lagi mengorbankan waktu dengan perjalanan darat yang melelahkan yang berakibat hari liburan lebaran itu terpotong, aku pun ingin mengganti akomodasi mudik dengan naik pesawat.

Loh, tiket naik pesawat kan mahal?

Memang sih harga tiket pesawat kini mendadak melambung tinggi, tapi bukan berarti tidak bisa mendapatkan harga tiket yang malah murah. Karena mudik hanya setahun sekali, hanya saat lebaran, pastinya saya harus merencakan dengan maksimal. Ini rencana mudik yang saya lakukan agar tidak ada lagi drama susahnya mau mudik :

1. Berburu tiket jauh-jauh hari

Waktu high-season di musim libur lebaran ini jelas harga tiketnya pun melonjak. Mencari tiket jauh-jauh hari sebelum tanggal keberangkatan adalah cara terbaik agar tak kehabisan tiket dan mendapat harga yang lebih bersahabat. Biasanya tanggal mudik sudah bisa sedikit tertebak, jadi bisa memperkirakan dengan pesawat pada hari apa, waktu terbaik sekitar 50-60 hari alias sekitar 2 bulan sebelum hari terbang. Berdasarkan pengalaman saya, satu bulan menjelang lebaran saja tiket sudah kebanyakan habis.

2. Rajin cek harga dan maskapai

Naik pesawat jangan beranggapan kalau nama maskapai tertentu pasti murah, bandingkan semua maskapai. Survei harga berapa harga tiket pesawat juga. Sewaktu-waktu harga tiket pesawat bisa berubah-ubah kapan saja.

3. Cari promo

Memanfaatkan promosi tiket pesawat lumayan membantu bikin harga lebih murah, apalagi dalam rangka mudik lebaran pastinya selalu ada penawaran diskon menarik. Saya mendapatkan promo mudik spesial dari tiket.com yang menyediakan Tiket Hari Raya atau disebut juga THR. Tiket Hari Raya dari tiket.com ini memungkinkan saya untuk membeli tiket pesawat dengan potongan harga yang tinggi, bahkan ada diskon sampai Rp 1 juta di promosi Tiket Hari Raya atau THR ini.

Hasil gambar untuk tiket.com 2019 thr pesawatHasil gambar untuk tiket.com 2019 thr pesawatHasil gambar untuk promo mudik tiket.com 2019 thr pesawatPesan online tuh pilihan terbaik sih ketimbang harus bingung pergi ke agen tiket, tahulah gimana seorang pekerja seperti aku yang nggak punya waktu banyak pergi ke luar. Pemesanan tiket pesawat di Tiket.com sangat mudah. Tiket.com menjamin tiket mudik sampai di tangan.

Hasil gambar untuk promo mudik tiket.com 2019 thrNggak ada lagi kekhawatiran dari saudara saya yang mencemaskan akan kepulangan saya yang belum pasti seperti dulu. Saya mendapatkan kepastikan bisa mudik. Setelah melakukan pembayaran melalui mobile banking, aku benar mendapatkan e-tiket. Namaku tercetak dalam tiket yang akan membawaku pulang. Senangnya mendapatkan kepastian pulang tuh sesuatu banget, tanpa harus pakai drama.

Berada di atas awan dan memandang keluar jendela pesawat, baru kali ini saya merasakan aman dan nyaman bisa mudik. Tiket.com memang solusi asik untuk bisa pulang kampung. Perjalanan mudik tahun ini sangat tidak terlupakan karena saking mudahnya mendapatkan tiket mudik.

Akhirnya Lebaran Bersama Keluarga

Seperti lebaran lalu semenjak bapak sudah tiada, momen sungkeman di hari lebaran menjadi momen yang sungguh mengharukan bagi saya sebagai anak yang merasa masih merasa banyak dosa kepada ibu. Betapa banyak pengorbanan yang ibu berikan, setitik balasan pun belum bisa saya berikan. Pulang menemui orang tua tunggal saya ini belum ada bandingannya. Sesulit apa pun di tanah rantau, saya berusaha pulang.

Tiap tahun ketika merayakan lebaran, semakin tahu bahwa usia orang dewasa semakin berkurang, semakin saya merasa menghargai waktu pertemuan dengan orang-orang tetua dan keluarga besar. Ya, tahun ini pula, kunjungan ke tetua semakin berkurang setelah seorang kembali ke Rahmatullah. Dulu tiga hari berkeliling baru selesai ke saudara-saudara, kini cukup sehari saja sudah kelar.

Saya sudah tidak punya kakek dan nenek, namun itu yang menguatkan keluarga besar untuk selalu kumpul di satu tempat agar bisa selalu menikmati momen besar. Di pihak keluarga ayah, kumpul di rumah istri saudara laki-laki pertama. Di sini biasanya hidangan soto menjadi andalan makanan khas lebaran. Ah, jangan salah, soto biasa? Soto ini khas Pacitan loh, segar, berkuah bening, bertabur kacang. Sudah tradisi lah harus makan ini.

Sedangkan  pihak keluarga ibu, tahun ini kami berkumpul di rumah prabon (rumah peninggalan kakek nenek) yang kini ditinggali bulek. Sudah dua tahun ini nenek sudah tiada, rumah tersebut memiliki memori yang tidak terlupakan. Dari yang dulu rumah gedhek (berdinding ayaman bambu) sungguh ndeso banget hingga kini menjadi modern.

Kini lebaran tahun ini saya bisa berkumpul bersama keluarga besar sambil menikmati panganan khas Lebaran yang bikin kangen. Bukankah harta yang paling berharga ya keluarga kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s