Dahsyatnya Berbagi Kebahagiaan Bikin Ketagihan

Tidak sampai satu bulan lagi, Ramadhan tahun ini akan mendatangi kembali. Hati siapa yang tidak sumringah menyambutnya. Bulan suci yang menjadi penghibur hati bagi umat muslim sekalian.

Ramadhan mengingatkan saya bahwa pada bulan tersebut saya diterima SNMPTN jalur tes tulis (masa saya, namanya bukan SBMPTN) di kampus ternama sekaligus sebagai penerima beasiswa. Empat tahun kemudian yang juga jatuh di Bulan Ramadhan, saya yudisium. Hidup dalam kekurangan, sempat tidak terlintas dalam benak saya untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Bahagia rasanya berhasil sampai titik ini, juga bisa menuntaskan impian almarhum bapak kepada saya.

Menyalurkan Rasa Syukur

Alhamdulilah, pada Ramadhan itu rasa syukur yang tidak henti-henti saya panjatkan kepada Allah SWT akan menuju kelulusan mahasiswa. Beban perkuliahan usai sudah. Kalau yudisium ini terlewati kan tinggal wisuda. Meskipun belum sampai ke acara pengukuhan atas selesainya studi, sudah dipastikanlah saya segera menyandang gelar sarjana di belakang nama lengkap. Setidaknya kalau ketemu sanak saudara di hari raya lebaran yang bertanya “gimana kuliahnya sudah lulus?”,  saya bisa jawab dengan senyam senyum “bulan depan wisuda kok”. Tepatnya Bulan Agustus jadwal wisuda.

Kebahagiaan ini rasanya kurang jika hanya rasa syukur yang diucapkan di mulut. Saya ingin membagikan kebahagiaan ini dengan orang lain. Bukan kumpul makan-makan dengan teman-teman mahasiswa, lebih dari itu saya ingin berkumpul buka puasa dengan mereka yang membutuhkan. Selain mengadakan acara buka bersama anak yatim, saya juga berniat bagi-bagi nasi kepada kaum dhuafa menjelang berbuka. Rencananya acara akan dilaksanakan di hari Yudisium, hari terakhir sebelum libur lebaran.

Jangan Takut Berbagi
Memuliakan anak yatim. Sumber foto : hidayatullah.com

Saya sadari selama empat tahun kuliah, dana yang saya nikmati sebagai penerima beasiswa yang berasal dari rakyat itu, jarang sekali saya pergunakan untuk kebaikan. ‘Dalam harta yang kita pegang terdapat hak orang lain’, saya paham sekali kalimat tersebut namun jarang dilakukan. Tahun terakhir saya akan meninggalkan perantauan sebagai mahasiswa, saya ingin meninggalkan bekas kenangan indah dengan berbuat kebaikan di bulan kebaikan ini. Momen yang tepat datang di Bulan Ramadhan, bulan mulia yang dianjurkan bersedekah oleh Rasulullah SAW.

Akankah Bisa Terwujud?

Bisa dibilang saya menganggap diri ini sok banget. Sok-sok an bersedekah, sedangkan kondisi keuangan sendiri ketar-ketir. Mending uang yang tersisa buat hidup kan. Memang saya sudah berhenti menerima uang saku bulanan dari beasiswa semenjak awal semester ditransfer, kini hanya tersisa receh-receh. Mau mendaftar yudisium pun saya tunda satu bulan karena belum ada uang pendaftaran (tidak dicover beasiswa, biaya wisuda juga). Belum lagi wisuda yang masih bingung nggak punya uang untuk bayar make up nantinya, ini yang sedang dipikirkan. Pusinglah. Saya sempat diragukan dengan niat sedekah ini.

Allahualam.

Mulanya saya mengutarakan keinginan ini ke tim skripsi. Keragu-raguan lain menyusul terbesit, apakah rencana ini bakal ada yang mau membantu menyumbang dana? Karena ini pertama kalinya saya melakukan penggalangan dana inisiatif pribadi.

Ternyata mereka menanggapi dengan setuju. Keraguan yang tadinya melanda, tertepis dengan adanya dukungan. Well, I need support, karena memang saya tidak ingin melakukan kebaikan ini sendirian. Salah satu dari tim skripsi mereka yang jago desain, langsung saya mintai tolong untuk dibuatkan poster. Begitu poster cepat terselesaikan, mulailah campaign dilakukan. Bismillah.

Jangan Takut Berbagi

Agar penggalangan dana ini tidak didasarkan nama pribadi, saya pun membuatnya atas nama angkatan fakultas. Dengan mengatasnamakan bersama, saya ingin mengajak teman-teman yang lain ikut andil melakukan kebaikan juga. Karena campaign ini saya yang memulainya, ekstra bekerja keras pun saya lakukan untuk mewujudkannya. Posisi saat itu saya sedang pulang kampung karena sudah tidak ada kegiatan kampus dan hanya menunggu yudisium. Selain itu juga uang yang dimiliki mepet untuk hidup di perantauan hahaha.

Kebanyakan usaha yang saya lakukan dari rumah adalah menghubungi satu persatu teman melalui kontak Blackberry (masa itu aktif-aktifnya chat pakai BB, dibandingkan WA seperti sekarang). Tanggapan positif pun berdatangan. Mereka pun membantu membagikan campaign. Media sosial saya kerahkan. Campaign ini juga dibantu media partner seperti akun kampus untuk menyebaran info.

Sebenarnya acara ini mendadak saya rencanakan. Dengan jarak waktu satu mingguan menuju hari H, saya sempat ragu apakah bisa terwujud. Perhitungan yang saya ambil, acara bisa terwujud jika dana sudah mencapai target di angka satu juta. Iya, jika tercapai kan? Kalau tidak? Ini yang saya takutkan, ujung-ujungnya masak harus saya yang menanggung.

Hanya doa yang bisa saya panjatkan kepada Allah SWT agar bisa memenuhi target yang saya inginkan. Alhamdulillah, berkah Bulan Ramadhan yang mengabulkan doa, target itu berhasil saya dapat sebelum hari H. Senangnya saya dikelilingi teman-teman yang baik, kebanyakan donatur yang masuk adalah teman mahasiswa sefakultas sendiri.

Saya kembali ke perantauan, dua hari menjelang hari H. Segera saya mengunjungi panti asuhan dekat kampus, Panti Sunan Ampel. Ternyata untuk acara buka bersama anak yatim pada hari yang saya mau, panti tersebut sudah dibooking orang lain. Karena panti asuhan yang saya mau sepertinya gagal dilakukan acara, saya pun bertanya ke teman lainnya. Panti mana yang bisa didatangi. Tapi kalau dipikir-pikir, mesti semua panti sudah di-booking untuk acara buka bersama apalagi ini minggu terakhir Bulan Ramadhan. Sempat terbersit, kalau gabung acara dengan orang lain yang sudah booking tersebut, gimana ya? But impossible, acara yang diinginkan mereka dengan saya juga bakal berbeda. Ketar ketir rasanya apakah bisa jadi diadakan acara buka bersama di panti. Kalau bagi-bagi nasi ke kaum dhuafa kan orang-orangnya mudah dijumpai di tempat umum.

Mungkin saya gila melakukan acara ini. Saya dulu hanya berpikir kalau dana sudah tercapai, saya baru membuat janji dengan pihak panti. Ah, bodohnya saya. Yang benar itu buat janji jauh-jauh hari.

Tidak bisa menyelenggarakan buka puasa bersama, rencana saya ubah dengan membuat acara selepas shalat tarawih. Karena anak-anak sudah berbuka menu berat, di acara nantinya saya hanya bagi-bagi bingkisan. Lanjut saya hubungin kembali panti dekat kampus, Alhamdulillah pihak panti menyetujui. Yes, deal!

Lagi-lagi saya memikirkan, dibandingkan rencana awal sebenarnya rencana baru ini yang paling baik. Bayangkan betapa egoisnya saya ingin melakukan buka bersama dan bagi-bagi nasi di waktu menjelang magrib, tidak mungkin bisa berjalan bersamaan.

Alhamdulilah H-1 acara, dana yang masuk bertambah. Total akhir Rp 1.543.376,00, berasal dari donatur online (Rp 233.376), donatur offline (Rp 1.060.000). Lagi-lagi berkah Ramadhan yang menjadikan pengalangan dana bisa melebihi target satu juta, tepatnya 154%. Segeralah saya belanjakan keperluan bingkisan dan pesan nasi.

#PatunganTHR.png

Selain dana yang berhasil digalang, saya juga menerima bantuan barang. Alhamdulillah barang yang disumbangkan dari teman-teman saya sangat bermanfaat meliputi pakaian, mukena, sembako, mushaf, Al-Qur’an, dan lain sebagainya. Senang sekali banyak yang memiliki jiwa kebaikan di bulan penuh mulia ini.

Datanglah hari itu. Hari dimana saya dan mahasiswa lain berseragam hitam putih menghadiri yudisium. Pintu awal menuju acara wisuda itu terbuka, kami pun dinyatakan LULUS.

Untitled.pngSelepas yudisium, saya mengajak teman-teman lain untuk ikut bergabung di acara yang saya selenggarakan nanti sore. Sayangnya banyak yang menolak. Ada yang sudah punya janji buber acara lain. Kebanyakan sudah bersiap pulang kampung, wajar saja sih hari ini adalah hari terakhir kami ngampus sebelum libur lebaran. Agak sedih sih bakal sedikit yang membantu, tapi nggak terlalu sedih banget lah karena masih ada teman-teman terdekat sebanyak 12 orang yang sebagian besar juga penerima beasiswa.

Bahagia Melihat Mereka Bahagia

“Terima kasih semoga dibalas kebaikan kalian.” Ucapan bapak si pegayuh becak yang penuh doa kala senja menggelayut di jantung kota.

Kami bergerak dari pukul 16.30, setengah jam kemudian di sekitaran stasiun kota kami mulai membagikan nasi bungkus kepada pengendara becak. Bagi kami, mereka adalah pejuang nafkah yang berpenghasilan tidak seberapa dan harus bersaing dengan ojek (saat itu ojek online belum bermunculan) dan angkot yang lebih diminati masyarakat. Miris selalu saya rasakan apabila melihat mereka yang kerap kali tidak kunjung mendapatkan penumpang.

 

Karena masih ada nasi yang tersisa, saya dan beberapa teman juga menyusuri tempat lain agar bisa menjangkau mereka yang membutuhkan. Sementara beberapa teman lainnya masih di dekat stasiun.

“Sini… sini ada nasi,” Panggil bapak tukang becak kepada yang lainnya.

Senang rasanya hati ini melihat mereka menyambut kedatangan kami membawa kresek besar berisi nasi bungkus. Nasi berlauk ayam adalah kenikmatan yang tidak ternilai bagi mereka. Padahal bagi kami mahasiswa adalah biasa menyantapnya setidaknya seminggu sekali, karena mudah menjumpai penjual nasi lalapan ayam di sekitaran kampus.

Alhamdulillah detik-detik menjelang adzan berkumandang, sebanyak 60 nasi telah disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Kami pun bergegas pulang untuk berbuka puasa. Saya bersyukur sekali kepada Allah SWT yang menggagalkan rencana awal saya. Jikalau pembagian nasi di tengah kota selesai, tidak akan keburu kami sampai ke panti sementara waktu buka sudah tiba. Kasihan kan anak-anak panti menunggu. Sedangkan kalau tim dibagi ke dua tempat malahan kekurangan tenaga.

Yang ditunggu-tunggu selepas shalat tarawih akhirnya tiba, kami beriringan menuju Panti Sunan Ampel. Diantar pengurus panti, kami masuk ke dalam ruangan. Sebanyak 55 anak penghuni panti dihadapkan di depan kami. Tampak kehangatan keluar dari melihat ketika melihat kami muncul dari pintu masuk. Baru kali ini saya berada di dalam panti asuhan bertemu langsung dengan penghuni kecil itu.

Saya adalah anak yatim yang ditinggalkan bapak ketika saya duduk di akhir sekolah menengah atas. Namun saya lebih beruntung dibandingkan mereka, para penghuni panti asuhan itu, yang tidak merasakan kasih sayang orang tua di masa kanak-kanak mungkin sejak lahir. Mereka butuh support orang lain agar tumbuh seperti anak-anak yang lain. Dikelilingi mereka yang lebih ceria, saya merasa lebih bersyukur dalam hidup yang meski sering mengeluh dan lupa kalau bukan hanya hidup saya yang menderita saja, banyak orang yang memiliki masalah namun bisa menyikapinya dengan hati lapang.

Sebelum acara, saya minta ijin kepada pengurus panti apakah diperkenankan untuk mengadakan mini game. Rasanya hambar kalau kegiatannya sepi hanya membagikan bingkisan saja. Dan pengurus panti mengijinkan. Pimpingan pengurus memulai acara dengan memimpin doa. Dilanjut sambutan dari saya sebagai perwakilan mahasiswa. Serah terima bingkisan sembako dan bantuan barang lainnya kepada pihak panti. Kemudian mini game pun dimulai.

PatunganTHR sedekah1

Satu per satu penghuni kecil itu kami bagikan satu balon yang harus ditiup. Semua teman mahasiswa membaur menjadi kelompok-kelompok dengan mereka. Aturannya simple, kelompok yang sudah terbagi itu harus berlomba-lomba meniup balon cepat-cepat. Siapa yang sudah menyelesaikan duluan, itulah yang menang. Sederhana memang, namun permainan ini sudah mengundang gelak tawa bagi mereka. Suara-suara ribut datang dari segala penjuru. Hingga akhirnya ada kelompok yang menyelesaikan duluan, disusul satu per satu kelompok lainnya. Tidak ada hadiah kepada kelompok pemenang dalam mini game ini. Karena semuanya menjadi pemenang dengan diberikan hadiah bingkisan makanan ringan.

PatunganTHR sedekah2.pngHanya sebentar permainan ini kami selenggarakan mengingat mereka harus lanjut tadarus. Meski waktu sedikit yang kami luangkan, rasa kebersamaan ini sangat kami nikmati bersamanya. Senang melihat mereka bahagia dengan apa yang kami lakukan dan kami bawakan.

Sebelum pengakhiri perjumpaan kami, teman mahasiswa sharing kepada mereka. Meskipun mereka menjadi anak yang tidak didampingi orang tua kandung, kami berharap mereka tidak minder dan berani bermimpi besar untuk menempuh pendidikan, banyak beasiswa yang bisa menanggung biaya kuliah seperti yang saya dan teman-teman saya terima. Kami memberikan mereka semangat untuk menggapai mimpi besar.

Ditutup kembali dengan doa, pengurus panti juga memberikan doa agar kami diberikan keberhasilan dalam  meraih cita-cita selepas kuliah seperti dipermudahkan mencari pekerjaan dan bagi yang lanjut pendidikan S2. Amiinn, begitu penghuni kecil itu mengaminkan doa di akhir kalimat. Acara pun selesai. Dan kami berpamitan pulang.

PatunganTHR sedekah

Dahsyatnya Berbagi

Banyak cara untuk menemukan kebahagiaan. Tidak hanya berlibur ke tempat rekreasi, juga bisa dengan bersyukur dan berbuat baik. Inilah yang meningkatkan kebahagiaan seseorang. Mungkin kalau dulu saya sungguh takut melakukan acara ini dan tidak menjadikannya nyata, mungkin saya tidak akan merasakan bahagianya berbagi. Saya berbagi saya bahagia, seperti itu rasa senang, bangga dan hati yang lapang muncul seketika. Kebahagiaan yang tidak hanya saya rasakan tapi juga orang-orang lain yang berpartisipasi dan menerimanya. Kebahagiaan yang tidak saja dijumpai dengan mengunjungi tempat rekreasi tapi bisa dengan cara bersyukur.  Beruntung sekali saya dikelilingi teman-teman yang selalu mendukung. Berkah Ramadhan pula yang menjadikan acara ini berjalan lancar tanpa kurang apapun.

Lalu setelah acara itu selesai, bagaimana nasib saya? Apakah saya menyesali uang yang saya keluarkan untuk ikut bersedekah, seharusnya bisa digunakan untuk membiayai hidup selepas bebas kuliah. Apakah kebahagiaan berbagi yang saya rasakan itu bisa memberikan saya hidup? Oh, tidak. Saya sudah ikhlas betul-betul. Saya malah merasa menyesal jika tidak melakukan acara tersebut.

Disahkan memiliki gelar sarjana dalam pengukuhan wisuda, rasanya hidup saya kemudian seperti manusia kere. Beda saat menjadi mahasiswa yang masih disokong uang saku dari beasiswa. Merasakan sebagai pengangguran kini. Masa penantian menunggu panggilan kerja, saya lolos sebagai finalis Lomba Fotografi Nasional padahal saya tidak ahli memotret. Hanya bermodal smartphone resolusi rendah saja, Allah SWT mengantarkan hasil pengumuman kepada saya. Tidak disangka-sangka ternyata semua finalis yang tidak juara mendapatkan hadiah uang senilai gaji manager. Nikmat mana yang saya dustakan ketika tidak ada uang sama sekali, Allah SWT memberikan rejeki lebih. Alhamdulillah, hadiah tersebut bisa saya pergunakan untuk ongkos bolak-balik perjalanan interview kerja hingga biaya awal di perantauan ketika akhirnya mendapatkan pekerjaan.

Niat berbagi yang didasari hati yang baik dan dikerjakan dengan tulus ikhlas saya lakukan, Alhamdulillah diberikan balasan oleh Allah SWT. Rejeki yang saya terima ini semakin membuat saya yakin bahwa apabila mau berbagi tidak perlu menunggu kaya. Takutnya kalau sudah kaya malah eman mengeluarkan uang, takut uangnya habis. Itu pun kalau ingat untuk bersedekah. Selagi memiliki uang, bersedekahlah. Kalau tidak memiliki uang, sedekahlah dengan barang atau dengan ilmu. Jangan merasa jika kita berbagi menyedekahkan harta maka akan menjadi miskin, itu justru akan memberikan keajaiban dan keberkahan dalam hidup. Jangan takut berbagi, InsyaAllah kita akan menjadi kaya, kaya harta dan kaya hati. Masak beli paketan internet mampu, untuk bersedekah saja eman? Please jangan tuman gitu deh.

Sekali Bersedekah Akan Ketagihan

Dengan keajaiban rejeki yang saya terima, saya menjadi ketagihan untuk bersedekah kembali. Saya mengingat kembali akan doa anak yatim di panti asuhan, dahsyatnya doa mereka yang mustajab itu. Berkat mereka, saya menjadi mengerti bagaimana berbagi mendatangkan kebermanfaatan. Kalau mengenang acara ke panti asuhan, banyak teman teman yang ikutan membantu kala itu ingin kembali melakukannya. Rindu berbagi, itu yang kami rasakan. Sayangnya kini kami sudah mencar mencar dikarenakan lokasi bekerja yang berjauhan satu sama lain. Di masa kuliah, saya memiliki banyak teman yang bisa digerakkan untuk acara sosial, sedangkan sekarang sulit menemukan teman yang memiliki kepedulian di dunia kerja karena sedikitnya teman. Daripada menunggu yang bisa mengadakan kembali acara sosial yang tidak kunjung terlaksana, mending sedekah sendiri. Apalagi di era digital ini bersedekah sangat mudah melalui donasi online.

Bukan hanya karena ketagihan itu yang mendasari saya bersedekah. Hidup sebagai makhluk sosial tentunya kita membutuhkan bantuan satu sama lain, pun dengan saya yang butuh uluran tangan lainnya ketika kesusahan. Saya pernah merasakan bencana banjir dan longsor di kota saya, Pacitan, akhir 2017. Bencana terparah dalam sejarah kota ini melanda akibat siklon tropis Cempaka yang menimbulkan curah hujan, juga menelan puluhan korban jiwa. Seumur-umur baru saya rasai bagaimana air cokelat masuk ke dalam rumah. Daerah lingkungan saya, air banjir hanya masuk sedengkul orang dewasa  dibandingkan desa lain dekat bendungan jebol yang tinggi airnya hampir 4 meter. Pacitan yang dikelilingi pegunungan dan laut dengan adanya bencana banjir dan longsor ini menjadikan akses kemana pun tertutup jadinya. Alhamdulilah dalam satu hari saya sekeluarga mendapatkan bantuan makan. Pun beberapa hari berlanjut bantuan barang. Bayangkan kalau tidak ada orang baik yang peduli, mana bisa bantuan ini datang dengan cepat.

bpbd-jatim-bencana-terparah-tahun-2017-terjadi-di-pacitan-sidoarjo.jpeg
Banjir Pacitan 2017. Sumber foto : Merdeka.com

Pada bencana banjir tersebut, kakak saya adalah salah satu sosok pahlawan yang menjadi relawan. Karena desa saya tidak terlalu mendapatkan dampak parah dari banjir, kakak memilih membantu di desa lain. Pun setelah banjir mereda di hari-hari kemudian, ia masih lanjut menjadi relawan. Bersama komunitasnya, ia menyalurkan bantuan barang-barang kepada korban bencana. Hingga akhirnya kakak mengajak saya untuk berbagi, senang sekali saya mendapatkan kesempatan menjadi relawan meskipun hanya sebentar. Baru saya rasai bahwa berbagi tidak hanya dengan uang, bisa dengan tenaga juga.

Mengingat bencana di kota saya kala itu, ketika banyak orang baik yang peduli membawakan bantuan dari luar, kenapa saya nggak gantian ikutan peduli apalagi banyak bencana alam yang kerap melanda negeri ini. Memang sih saya tidak sanggup berdonasi untuk setiap peristiwa bencana yang terjadi, setidaknya ada yang bisa saya berikan pada saat tertentu. Rasanya kalau dalam satu bulan tidak bersedekah, hati saya merasa belum lapang. Walau kadang dompet lagi seret-seretnya, saya ikhlas bersedekah dengan uang seadanya. Apalagi Dompet Dhuafa mengajak kita untuk #jangantakutberbagi.

Dompet Dhuafa 2.pngIngin menyalurkan donasi secara online, pastinya harus mencari lembaga yang menjunjung tinggi amanah bagi donatur. Saya mempercayai Dompet Dhuafa sebagai lembaga Amil Zakat terbesar di Indonesia untuk menerima, mengelola dan menyalurkan dana Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF). Dompet Dhuafa  hadir sejak tahun 1993 untuk mengangkat harkat sosial kemanuasiaan, hal ini sejalan dengan keinginan saya untuk menolong kaum dhuafa. Berbagi bersama Dompet Dhuafa, kita akan terlibat dalam mengentas kemiskinan dan upaya membangun bangsa Indonesia untuk lebih maju. Kita bisa membantu mengubah cara dunia menangani kemiskinan melalui empat program Dompet Dhuafa yakni bantuan Kesehatan, Pendidikan, Ekonomi dan Pengembangan Sosial. Dengan website Dompet Dhuafa yang gampang diakses, berbagi kepada sesama pun menjadi mudah. Banyak pilihan layanan untuk menyalurkan donasi di antaranya :

  • Kanal Donasi Online

Melalui https://www.dompetdhuafa.org/donasi, banyak informasi lengkap yang tersaji mengenai donasi. Di sini kita juga  diarahkan untuk memilih donasi Zakat, Kemanusiaan atau Wakaf. Dari pilihan donasi tersebut saya lebih ambil bagian kampanye kemanusiaan demi memberikan kekuatan kepada korban bencana mengingat saya pernah mengalami bencana alam juga. Banyak berita musibah yang mengugah hati saya untuk mengulurkan tangan untuk mereka.

dompetdhuafa.pngSetelah memilih kampanye kemanusiaan, tinggal klik Tombol DONASI SEKARANG, lanjut isi form donasi, dan lakukan pembayaran. Mudah kan.

Dompet Dhuafa 1.pngDompet Dhuafa semakin mempermudah kita berdonasi melalui portal donasi, tinggal masuk ke donasi.dompetdhuafa.org, kita hanya tinggal mengisi form saja.

  • Transfer Bank

Sedekah tidak harus menunggu momen Bulan Ramadhan untuk mendapatkan rahmat-Nya, sedekah bisa dilakukan kapan saja. Pembayaran donasi Dompet Dhuafa bisa melalui transfer bank, pilihan bank tersedia seperti BCA, Mandiri, BNI dan Bank Muamalat. Tinggal pilih bank channel apa yang diinginkan. Atau tidak mau repot ke ATM? Transaksi online pun tersedia, lewat CIMB Clicks, Master Card Visa, atau IB Muamalat.

  • Counter

Kalau kalian punya teman yang pengen berdonasi di Dompet Dhuafa, namun dia tinggal di luar negeri, jangan surutkan niat untuk berdonasi karena cabang Dompet Dhuafa luar negeri  ada loh. Dari Amerika, Hongkong, Jepang, Australia, hingga Korea Selatan. Bagi kalian di dalam negeri yang sulit bertransaksi untuk donasi,  Dompet Dhuafa juga menjangkau teman-teman di berbagai daerah dengan adanya Counter ZISWAF sehingga bisa langsung mengunjunginya. Klik sini untuk tahu lokasinya dimana saja.

  • Care Visit

Pengen langsung datang ke lokasi pemberdayaan masyarakat? Bisa ikutan Care Visit, jadi Dompet Dhuafa akan mengajak kita turut serta menikmati dan merasakan kehidupan pemberdayaan bersama mereka melalui kunjungan. Seperti salah satu program yakni pemberdayaan Ekonomi, Dompet Dhuafa melakukan pendampingan untuk peningkatan kuantitas serta nilai jual produk-produk kreatif yang telah dirintis masyarakat, seperti batik tulis halus, pembuatan payung lukis, dan pemerahan susu sapi. Pastinya akan seru kalau ikutan berpartisipasi.

  • Tanya Jawab Zakat

“Bolehkah menyalurkan zakat kepada keluarga kandung?”

“Apakah Tabungan untuk Pembangunan Rumah Wajib Dizakati?”

Punya pertanyaan seputar zakat dan tidak tahu harus mencari jawabannya, jangan khawatir. Dompet Dhuafa menyediakan layanan konsultasi. Kita bisa tanya apa saja seputar zakat, ada ustad yang akan menjawab.

  • Edukasi Zakat

Ada nggak dari kalian yang tahunya zakat itu zakat fitrah saja? Ternyata lebih dari itu loh, ada zakat profesi, zakat maal, zakat investasi, zakat perusahaan dan lain sebagainya. Sebelum bersihkan harta dengan zakat, alangkah baiknya  kita tahu memahami tentang zakat itu. Dompet Dhuafa menyediakan panduan zakat yang informatif dan komprehensif sehingga bisa menjadikan pegangan. Bingung untuk menghitung zakat? Dompet Dhuafa juga akan membantu menentukan jumlah besaran Zakat yang wajib ditunaikan melalui kalkulator zakat.

  • Laporan Donasi

Saya tidak ragu berdonasi di Dompet Dhuafa dikarenakan lembaga kemanusiaan ini selalu menjaga transparasi dana para donator sehingga menerima penghargaan dari Registrasi Akuntan Publik PKF sebagai lembaga yang transparansi dan akuntabilitas. Kita sebagai donator bisa melihat laporan donasi yang selalu diupdate oleh lembaga ini.

Seperti yang sudah-sudah, setiap saya selesai melakukan donasi saya merasakan kelegaan. Hati menjadi lapang. Perasaan yang selalu menagihkan. Saya hanya berharap semoga Allah SWT selalu menjaga saya untuk terus istiqomah berbagi kepada sesama. Selain saya, banyak yang sudah percaya menitipkan donasinya kepada Dompet Dhuafa, kenapa kalian masih takut berbagi? Berbagi bersama Dompet Dhuafa itu mudah.

 

This slideshow requires JavaScript.

Ingin menjadi manusia bermanfaat dengan menolong dan meringankan jangan menunda-nunda selagi diamanahi rejeki oleh Allah SWT, tidak perlu menunggu menjadi kaya.  Sedikit harta yang diberikan tidak apa-apa daripada tidak sama sekali. Jangan takut untuk berbagi. Rasakan sendiri bagaimana Allah SWT akan melipatkan gandakan sedekah yang kita berikan. Namun menunaikan kebaikan tidak selalu dinilai dengan uang. Berbagi bisa dengan cara apa saja, seperti saya yang pernah menjadi relawan. Yuk mulai berbagi dari sekarang.


“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

6 thoughts on “Dahsyatnya Berbagi Kebahagiaan Bikin Ketagihan

Leave a Reply to Prilalapril Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s