Berbisnis Go Digital, Untung Berlipat #Ecodigi

Saya sadar keputusan yang saya ambil sekarang menentukan akan menjadi apa saya di masa mendatang. Kenapa tidak berani bertindak? Ini cerita hidup saya, sebagai lakon sekaligus sutradara saya yang pantas menggerakkannya sendiri. Yang sayangnya berbeda dari harapan orang tua terhadap saya.

ilustrasi-pns-atau-asn_20180517_225028.jpg
Sumber : Qerja.com

Orang tua mana sih yang tidak ingin anaknya menjadi pegawai negeri? Pastinya hampir semua orang tua di Indonesia mencita-citakan begitu agar kehidupan anaknya terjamin. Lagipula di pandangan masyarakat umum, menjadi pegawai negeri adalah jabatan yang bermartabat. Tak pelak banyak lulusan sarjana yang berondong-bondong mendaftar. Bisa dibilang persaingan ketat untuk mendapatkan satu posisi formasi jabatan yang direbutkan puluhan bahkan ribusan.

Saya lahir sebagai anak ragil (terakhir) dari keluarga sederhana dekat pesisir pantai. Almarhum bapak pernah menjadi seorang nelayan, dan ibu bekerja sebagai penjual ikan di pasar. Dari saudara-saudara, saya satu-satunya yang berhasil meraih pendidikan tinggi dan menyandar gelar S1. Dengan gelar yang saya sandang, tentunya orang tua menginginkan saya bisa mengangkat derajat mereka selepas lulus kuliah.

Apalagi tahun kemarin dan tahun ini pembukaan calon pegawai negeri akhirnya dibuka. Bagi anaknya yang lolos, tentu menjadi dielu-elukan orang tuanya. Namun apa daya saya yang gagal di tes SKD CPNS tahun 2017, juga CPNS tahun ini 2018 gagalnya di administrasi. Pastilah orang tua saya kecewa.

Bagaimana dengan saya? Apa saya mengutuki kebodohan atas kegagalan ini?

Hati kecil saya mengatakan ‘TIDAK’. Toh sebenarnya saya mengikuti CPNS karena menuruti gengsi, hehe. Kalau ditanya sama sanak saudara dan tetangga, “Mbak, ikut tes CPNS dimana?” “Daftar CPNS di bagian apa?” Saya punya jawaban karena mengikuti CPNS beneran.

Dunia tidak kiamat kan hanya dengan tidak lolos CPNS?

Menangkap Peluang Pekerjaan dari Melek Internet

Hidup di masa yang dikit-dikit pegang handphone. Bangun tidur nyamperin handphone yang mumpet di belakang bantal, mau mandi ngecek notifikasi instagram dulu, sampai menjelang istirahat malam update status di twitter.

Namun buat apa punya handphone canggih bahkan mahal kalau cuma dipakai hal yang tidak bermanfaat? Daripada stalking mantan yang membuat mengingat-ngingat peristiwa masa lalu, kemudian malah baper kalau dia punya pacar yang lebih baik, mending stalking-in akun-akun motivator bisnis seperti Merry Riana yang memenuhi feed-nya dengan quote.

“Merubah diri menjadi lebih baik adalah salah satu tujuan kita di dalam hidup ini.”

Ketika diri ini tidak tahu apa yang mesti dilakukan pasca wisuda. Memang sih saya sempat menjabat sebagai pengacara. Pengangguran banyak acara, maksudnya, hahaha. Hmm, kok bangga kayaknya. Baiklah, kata-kata Merry Riana memancing diri saya untuk bereaksi. Daripada mencari pekerjaan yang tidak dapat, kenapa tidak membuat pekerjaan sendiri ya. Pemikiran itu masuk ke dalam otak.

Kalau bukan kita yang merubahnya siapa lagi? Bukankah dalam kitab Al-Qu’ran dijelaskan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaumsebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”(QS.ar-Ra’d:11)

Teringat kesukaan saya di bidang kreatif. Melukis. Saya pun menggerakkan tangan dan menggunakan spidol di atas media talenan. Tidak disangka, orderan pertama datang dari teman.

 

 

This slideshow requires JavaScript.

Memang sih cara berjualan awalnya dari mulut ke mulut ampuh banget. Namun lama kelamaan keuntungan hanya begitu-begitu saja bahkan bisa apes tanpa orderan dalam satu bulannya.

Ketika tahu bahwa internet mempermudah pemasaran produk, kenapa tidak dilakukan melaluinya? Sebagai anak muda, saya memiliki aplikasi lengkap media sosial. Bukannya saya juga berselancar dalam dunia maya di situ setiap hari. Saya pun serius membuka akun khusus online shop di media sosial dan juga di e-commerce.

La Latusch 1
Produk bisnis saya yang dipasarkan melalui media sosial dan e-commerce

Tidak disangka, orang luar pun memesan produk saya. Maklum biasanya orang yang saya kenal saja yang memesan. Saya pun mulai mengembangkan produk dengan melukis pada media bantal. Bermodalkan mesin jahit yang saya beli secara online, saya belajar secara otodidak. Lumayanlah sebagai pemula, untungnya banyak yang minat. Produk-produk yang saya jual memang sebagai kado untuk diberikan kepada teman, keluarga atau orang yang dicintai. Untuk merayakan momen ulang tahun, pernikahan bahkan hanya koleksi atau hiasan di dalam rumah.

 

 

Memang sih saya hanya tinggal di rumah. Bagi orang-orang menganggap saya pengangguran. Kata ibu saya pun saya bisanya cuma main handphone saja. Nyatanya saya bekerja di dalam rumah dan menggunakan handphone sebagai media promosi dan transaksi.

Bukankah zaman sudah berubah? Kerja tidak harus di kantor kan?

Smartphone akan memberikan kebaikan jika dipergunakan dengan baik pula. Pekerjaan pun bisa tercipta dari tangan sendiri jika memiliki kreativitas dan menguasai teknologi digital. Saya senang hidup di era digital ini.

Daripada jadi pegawai atau karyawan, saya mending memilih sebagai pemilik usaha. Yang InsyaAllah bisa membawahi karyawan nantinya.

Masuk Ekonomi Digital, Bisnis Lebih Untung

Mungkin ada yang merasa asing mendengarkan ‘Ekonomi Digital’. Kalau digital sih sudah paham ya kita semua, kan sudah masuk dalam kehidupan sehari-hari. Namun apa jadinya digital bertemu dengan sektor ekonomi? Bagi usaha bisnis saya jadi lebih untung berkat teknologi digital.

  • Tidak perlu membuka gerai toko

Membuka gerai toko membutuhkan modal besar tentu bagi seseorang yang memulai berdagang akan keberatan menyewa. Untungnya kini berjualan tidak harus buka toko fisik, adanya toko online seperti website sudah menjadi tempat lapak. Bahkan platform sosial media bagi saya yang usaha skala kecil itu sudah toko kok.

  • Mudah mencari bahan baku

Saya tinggal di kabupaten yang mana ketersediaan barang-barang tidak selengkap ketika di kota. Bahan baku yang susah saya dapatkan di kota adalah kain canvas untuk media melukis nantinya sebagai bantal. Adanya pun kain canvas tebal, padahal itu tidak sesuai. Saya menginginkan kain canvas yang lembut. Berkeliling dari toko satu ke toko lain, tidak bertemu. Untung adanya aplikasi jual beli, saya bisa mencari kain kanvas yang saya inginkan.

Lalotusch 2.jpg

  • Pembayaran online

Pembayaran secara tatap muka alias langsung dengan konsumen sih oke-oke saja kalau konsumen berada di lokasi yang dekat dengan kita sebagai owner. Namun beda cerita dengan konsumen berada di luar pulau, tentu sulit untuk bertemu. Transfer uang kini mudah dengan m-banking. Tinggal buka aplikasi di smartphone, bisa membayar dimana saja dan kapan saja. Saya pun sebagai owner mudah memantau uang yang masuk lewat sms banking. Sama-sama konsumen dan penjual dimudahkan.

  • Mudah menjangkau konsumen

Memiliki media yang bisa diakses oleh masyarakat, konsumen datang darimana saja. Bahkan orang yang tidak saya kenal pun banyak yang berkunjung karena tertarik dengan produk saya.

Lalotusch 2

Itulah asyiknya berbisnis pada ekonomi digital ini. Seseorang pembisnis yang tidak terhubung dengan internet pasti akan ketinggalan zaman dan kurang berkembang. Apa-apa orang sekarang mencari apapun lewat internet. Mau cari makan klik aplikasi, mau beli baju klik aplikasi.


antarafoto-pertemuan-tahunan-imf-world-bank-2018-111018-aez-1.jpg
Sumber : InfoPublik

Pentingnya ekonomi digital juga menjadi bahasan dalam Annual Meeting-International Monetary Fund (IMF) – World Bank (WB) 2018 di Nusa Dua, Bali. Saya mendukung pemerintah yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi digital terbesar pada tahun 2020. Bukankah yang untung bukan hanya pengusaha atau UMKM saja? Manfaat ekonomi digital selain memajukan UMKM, juga membantu perekonomian bangsa. Rakyat Indonesia pun akan kecripatan pekerjaan berkat lapangan pekerjaan yang dibuka oleh para UMKM.

Saya bangga telah bergabung dalam ekonomi digital.

 

Advertisements

2 thoughts on “Berbisnis Go Digital, Untung Berlipat #Ecodigi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s