Stop Stunting! Generasi Harus Sehat

Salinan LinkedIn Post Header – Desain Tanpa Judul(1).jpg

Selepas menunaikan ibadah magrib, emak saya sudah pegang piring dengan lauk ikan dan nasi di atasnya di ruangan keluarga. Dari kamar, samar-samar saya dengar beliau menyeletuk seorang diri. “Kok kondisi sekarang aneh-aneh saja.”

Saya pun keluar. Gerangan apa sih yang membuat emak bicara sendiri begitu. Ternyata emak melihat iklan di televisi yang mengampayekan mencegah stunting.

Mungkin memang banyak yang belum tahu  tentang stunting itu apa. Saya pun sendiri tahu stunting itu apa ya dari iklan televisi.

Salinan LinkedIn Post Header – Desain Tanpa Judul(2).jpg

Stunting itu adalah gagal pertumbuhan. Bisa dikatakan stunting itu istilahnya kerdil badan. Walau tidak semua stunting itu kerdil. Biasanya kalau bayi lahir pendek, maka ia berpeluang tubuhnya pendek.

Anak terlahir stunting.jpg

Bukan tanpa alasan jika emak heran dengan istilah stunting yang bisa dikatakan kondisi baru zaman sekarang. Karena anak-anak dahulu kebanyakan terlahir normal.

Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 menunjukkan prevalensi Balita stunting di Indonesia masih tinggi, yakni 29,6% di atas batasan yang ditetapkan WHO (20%). Penelitian Ricardo dalam Bhutta tahun 2013 menyebutkan balita stunting berkontribusi terhadap 1,5 juta (15%) kematian anak balita di dunia dan menyebabkan 55 juta anak kehilangan masa hidup sehat setiap tahun.

Untuk menekan angka tersebut, masyarakat perlu memahami faktor apa saja yang menyebabkan stunting. Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

Kekurangan gizi dalam waktu lama itu terjadi sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1000 Hari Pertama Kelahiran). Penyebabnya karena rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, dan buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani.

Faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktik pemberian makan kepada anak juga menjadi penyebab anak stunting apabila ibu tidak memberikan asupan gizi yang cukup dan baik. Ibu yang masa remajanya kurang nutrisi, bahkan di masa kehamilan, dan laktasi akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan tubuh dan otak anak.

Hasil Riskesdas 2013 menyebutkan kondisi konsumsi makanan ibu hamil dan balita tahun 2016-2017 menunjukkan di Indonesia 1 dari 5 ibu hamil kurang gizi, 7 dari 10 ibu hamil kurang kalori dan protein, 7 dari 10 Balita kurang kalori, serta 5 dari 10 Balita kurang protein.

Faktor lainnya yang menyebabkan stunting adalah terjadi infeksi pada ibu, kehamilan remaja, gangguan mental pada ibu, jarak kelahiran anak yang pendek, dan hipertensi. Selain itu, rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termasuk akses sanitasi dan air bersih menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan anak.

Kenapa Anak Terlahir Stunting.jpg

“Kalau yang lahir hari ini tidak diberikan gizi yang baik, baik ibu dan anaknya, tidak diberikan ASI Eksklusif maka 20 atau 30 tahun yang akan datang, generasi kita (Indonesia) menjadi generasi yang stunting (kerdil). Berbicara masalah stunting, kita sedang membicarakan bangsa ini ke depan.” –Wapres Jusuf Kalla.

Adanya stunting menentukan generasi bangsa Indonesia di masa depan. Kenapa? Apabila bangsa yang generasinya stunting maka akan menurunkan produktifitas dan jelas merusak ekonomi masyarakat negara karena pola pikir yang berbeda.

Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moelok menjawab, “Kerdil badan karena kekurangan gizi kronis, ini mengakibatkan otaknya juga kerdil. Artinya anak-anak itu jadi kurang pandai.”

Kecerdasan anak yang mengalami stunting  biasanya tidak lebih baik dari anak yang tidak mengalami stunting.

“Bonus demografi tidak akan berarti apa-apa tanpa generasi muda yang sehat jiwa dan raga. Dengan sehat jiwa dan raga, mereka akan mampu memaksimalkan potensi dalam berbagai hal,” papar Kepala Penelitian CIPS Hizkia Respatiadi.

Hal ini menjadi penting mengingat beberapa tahun mendatang, Indonesia sebenarnya memiliki peluang bonus demografi yang mana saat tersebut generasi muda berjumlah sangat besar. Bonus demografi Indonesia dikhawatirkan akan menjadi beban demografi jika pada masa tersebut generasi bangsanya mengalami stunting atau kekerdilan.

Saya Ingin Anak Saya Nanti Sehat.jpg

Sebagai calon ibu, saya sendiri tidak mau membayang jika memiliki anak yang mengalami stunting. Memang saya belum memiliki anak, ya karena belum menikah. Tapi bukan berarti harus menunggu hamil baru mulai langkah pencegahan loh. Ternyata mencegah dari sebelum menjadi ibu (remaja). Hal ini sesuai dengan yang dituturkan Menkes Nila Moeloek, “Semakin dini kita mencegahnya, sejak remaja perempuan, maka akan semakin baik hasilnya. Perlu perubahan perilaku, karena cegah stunting itu penting.”

Ayo Cegah Stunting Menuju Indonesia Sehat.jpg

“Stunting merupakan permasalahan yang paling mendasar yang harus segera diselesaikan.” – Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta

Generasi Indonesia harus sehat, jangan stunting. Maka pencegahan stunting itu menjadi upaya yang sangat penting.

Lalu bagaimana cara mencegahnya?

Untitled design.jpg

Mari kita ulas satu persatu.

1) Pola Makan

Mempersiapkan bonus demografi pada 2030, harus dimulai dengan menciptakan generasi muda yang sehat, baik jiwa maupun raga. Pemenuhan gizi seimbang adalah awal yang baik untuk tumbuh kembang anak.

Perlu kita resapi bersama, bahwa bayi dilahirkan agar tercukupi kebutuhan gizinya ditentukan sejak mendapatkan asupan makanan dari ibunya selama dalam kandungan. Secara khusus bagi para ibu hamil, agar senantiasa menjaga kehamilannya salah satunya dengan mencukupi kebutuhan gizi anak sejak 1000 hari pertama kehidupan.

Menkes menjelaskan, “Sejak janin tumbuh dalam kandungan (270 hari) selama hingga usia 2 tahun kehidupan (730 hari), dengan ASI Eksklusif, makanan pendamping ASI.” Ditambahkan Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, dr. Kirana Pritasari, MQIH, yang mengatakan,“Itu kuncinya, agar saat anak lahir beratnya tidak kurang dari 2500 gram dengan panjang badan tidak kurang dari 48 cm.”

isi-piringku.jpg
Sajian Menu Bergizi Seimbang. Sumber : http://www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

Bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan, memperbanyak sumber protein sangat dianjurkan, di samping tetap membiasakan mengonsumsi buah dan sayur. Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein (baik nabati maupun hewani) dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengimbau masyarakat untuk meningkatkan konsumsi ikan karena bisa mencegah kekerdilan tubuh. Ikan bisa jadi alternatif pilihan bagi masyarakat dalam mencukupi kebutuhan gizi mereka dengan harga yang terjangkau. Lalu kenapa ikan? Ternyata ikan mempunyai banyak kandungan yang tidak kalah hebatnya dengan daging sapi maupun ayam yang harganya mahal.

Saya terlahir dari keluarga yang berada di daerah pesisir, almarhum ayah yang dulunya nelayan, ibu yang masih menjual ikan di pasar. Mengonsumsi ikan hampir menjadi makanan sehari-hari. Saya bangga bisa memulai mencegah dari sekarang.

2) Pola Asuh

Stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita. Dimulai dari edukasi tentang kesehatab reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan.

Bersalin di fasilitas kesehatan, lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dan berupayalah agar bayi mendapat colostrum air susu ibu (ASI). Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan.

Tantangan selanjutnya sesaat setelah bayi dilahirkan, ia perlu mendapatkan colostrum dari air susu ibu (ASI). Bayi hanya membutuhkan air susu ibunya (ASI Eksklusif) selama enam bulan pertama kehidupannya. Setelah itu, saat bayi berusia 6 bulan, jangan sampai terlambat karena bayi perlu diberi makanan pendamping ASI yang bergizi seimbang.

Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI. Jangan lupa pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap bulan.

Hingga anak berusia dua tahun, fase tersebut merupakan masa emas perkembangan otak anak.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah berikanlah hak anak mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya melalui imunisasi yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah. Masyarakat bisa memanfaatkannya dengan tanpa biaya di Posyandu atau Puskesmas.

IMG_20180408_125716-702x336
Sumber : http://www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

Presiden Joko Widodo menghimbau bahwa “Sebulan sekali anak-anak kita dibawa ke Posyandu untuk ditimbang dan diukur tinggi badannya, dicatat secara rutin. Ini penting sekali bagi ibu-ibu yang memiliki bayi dan Balita, agar kita bisa tahu anak kita itu stunting atau tidak. Jangan sampai anak-anak kita kecil, (tinggi badannya) kerdil.”

3) Sanitasi dan Akses Air Bersih

Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.

F4E1EE7D-4FA7-48C2-A68E-173972FA4E5A-702x336
Kampanye Nasional Pencegahan Stunting secara nasional. Sumber : http://www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

Salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan stunting. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.

“Pola asuh dan status gizi sangat dipengaruhi oleh pemahaman orang tua (seorang ibu) maka, dalam mengatur kesehatan dan gizi di keluarganya. Karena itu, edukasi diperlukan agar dapat mengubah perilaku yang bisa mengarahkan pada peningkatan kesehatan gizi atau ibu dan anaknya”, tutur Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moelok.

Upaya pelibatan masyarakat untuk mengetahui apa itu stunting, dan bersama-sama melakukan upaya untuk pencegahan stunting mulai dari remaja putri (calon ibu) tidak anemia dan ibu hamil tidak kekurangan energi, serta pentingnya pemantauan tumbuh kembang bayi. Hal ini perlu disadari dan diintervensi secepatnya, agar anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi sehat, tinggi dan cerdas.

Pencegah stunting itu penting. Ayo cegah stunting menuju Indonesia Sehat!


Sumber referensi : http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/topik/rilis-media/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s