Nano Edible Film Berbasis Pati Gembili Sebagai Inovasi Pengemas Masa Depan

plastic-ocean-9x6.png
Sumber : santaeulaliatown.com

 “Bayangkan beberapa puluh tahun ke depan kita tidak bisa melihat lucunya seekor kura-kura dan penyu yang berenang. Karena sampah-sampah yang semakin menumpuk di lautan menjerat mereka dan akhirnya memunahkan makhluk tersebut. Ekosistem laut rusak.”

Membicarakan permasalahan sampah memang tidak ada habisnya. Malah semakin parah. Terdapat laporan, kurang lebih delapan juta ton sampah plastik mengalir ke laut setiap tahunnya di seluruh dunia. Indonesia telah dituding menjadi salah satu negara sumber sampah plastik terbesar di dunia. Tentu kita tidak ingin menunggu masa depan planet ini menghasilkan keburukan tidak terduga dari yang kita ciptakan.

Sebagai wanita yang kerap bergelut di dapur, saya pun tidak lepas dari membuang sampah. Banyak sampah yang dihasilkan di ruangan tersebut ketika membuat suatu masakan. Seperti masak mie instan pun bungkusnya dibuang. Memang hampir seluruh produk pangan menggunakan kemasan sebagai pelindung, kan? Kemasan plastik berjenis polypropylene (PP) yang digunakan sekali pakai lalu dibuang, merupakan jenis sampah yang paling sulit ditangani karena bersifat tahan lama terurai. Tidak heran gunungan sampah plastik menumpuk.

Kenapa tidak ada tindakan?

Terpikirkan. Bagaimana jika kemasan pangan bisa dimakan hingga tidak perlu membuangnya?

Perkenalkan, edible film alias plastik dapat dimakan yang menjawab tantangan ini. Edible film adalah lembaran tipis yang diletakkan di antara komponen makanan (film) yang berfungsi sebagai penghalang terhadap perpindahan massa (misalnya kelembaban, oksigen, cahaya, lipid, zat terlarut). Prinsip pembentukan edible film adalah interaksi rantai polimer menghasilkan agregat polimer yang lebih besar dan stabil.

ediblefilm2_a4f8dcd2-95aa-4506-b231-a51583bc51a5_2048x
Edble Film. Sumber : BakingWarehouse.com

 

Komponen penyusun edible film umumnya berasal dari bahan pertanian. Salah satu bahan paling potential adalah yang berbasis pati karena mampu berinteraksi dengan senyawa-senyawa lain. Sebagai bahan yang dapat diperbaharui (renewable), pati memberikan bahan pengemas yang tidak berdampak pada pencemaran lingkungan karena dapat terurai oleh mikroorganisme (biodegradable).  Bisa dikatakan edible film ini ramah lingkungan sehingga dapat menggantikan plastik konvensional dalam menjaga mutu makanan yang dikemas.

Nanopartikel pada Edible Film Berbasis Pati Gembili

Umbi gembili (Dioscorea esculenta L.) adalah jenis umbi-umbian Indonesia yang memiliki kandungan pati. Selama ini pemanfaatan umbi gembili masih terbatas bahkan sudah jarang ditemukan. Pembuatan pati umbi gembili menjadi edible film merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pengembangan kekayaan hayal lokal dan nilai guna dari pati umbi gembili. Keunggulan pati sebagai bahan edible film karena karakteristik organoleptiknya baik dalam hal penampilan, bau, dan rasa. Pemanfaatan pati umbi gembili sebagai salah satu bahan dasar pembuatan edible film dapat memicu peningkatan pendirian industri pangan di Indonesia dalam memproduksi pati.

111-300x214.jpg
Umbi gembili. Sumber : ilmubudidaya.com

Nanoteknologi untuk sektor pangan berpeluang besar dikembangkan di Indonesia karena  mempunyai sumber daya alam lokal besar untuk diolah sebagai bahan baku nano dengan tujuan zat-zat gizi diserap secara lebih efektif. Penggabungan materi berukuran nano (nanopartikel) yang sebagai bagian dari nanoteknologi dengan pengemas film mendorong berkembangnya bahan-bahan kemasan pangan inovatif. Bahan nanopartikel bersifat antimikroba dan dapat ditambahkan ke dalam formula edible film antara lain adalah ZnO (seng oksida) nano. Bahan ini menjadi penting dikarena sebagian besar masyarakat Indonesia sekarang banyak yang mengalami defisiensi mineral. Penambahan nanopartikel akan meningkatkan karakteristik edible film berbasis pati gembili seperti ketahanan atau keawetan, lebih gampang diproses karena ukurannya nano (sangat kecil), antimikroba, dan stabilitas terhadap panas dan dingin.

Sebagai pencinta mie instan, saya bisa membayangkan inovasi nano-edible film berbasis pati gembili diimplementasikan sebagai pengganti plastik pembungkus bumbu mie instan. Sebagai bagian masyakarat yang sebagian besar memiliki pola hidup serba cepat, mie instan memang menjadi makanan favorit. Pengemasan bumbu mie instan yang menggunakan plastik selama ini terbuat dari bahan sintetik yang sulit terurai oleh lingkungan dan dapat mencemari lingkungan. Nano-edible film berbasis pati gembili menjadi inovasi bumbu instan berbentuk lembaran yang bisa langsung dicemplungkan dalam masakan mie instan dan dimakan sehingga tidak lagi diperlukan pengemas bumbu plastik.

Nano edible film berbasis pati gembili menjadi penting dimasa mendatang karena masyarakat sudah semakin sadar akan kepedulian lingkungan. Industri plastik biodegradable tidak tersangkalkan akan berkembang menjadi industri besar di masa mendatang khususnya bidang pangan. Tidak hanya kemasan bumbu mie instan yang bisa diterapkan, untuk kemasan masakan lain pun bisa dikembangkan dalam industri.

“Bayangkan pengemasan masa depan kita tidak perlu membuang sampah. Kita tidak lagi menambahi planet ini semakin kotor. Kita bisa merawat bumi ini.”

Menghadapi revolusi industri 4.0 atau industri generasi ke empat yang merupakan transformasi industri yang dipengaruhi oleh maraknya perkembangan teknologi serta internet, inovasi-inovasi teknologi Indonesia perlu ditingkatkan demi kemajuan bangsa. Industri pangan adalah salah satu sektor industri yang menjadi fokus pemerintah dalam penerapan revolusi industri ke-4.  Teknologi nano berpotensi merevolusi sistem pertanian dan pangan serta mendorong revolusi industri secara global untuk mencapai sasaran pembangunan ketahanan dan kemandirian pangan.

Mewujudkan inovasi nano edible film berbasis pati gembili menuju revolusi industri 4.0 perlu ditunjang kelembagaan penelitian. Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPIPTEK) merupakan kawasan riset terbesar di Indonesia yang dibangun untuk menemukan solusi banyak permasalahan dalam berbagai sektor kehidupan, dengan menggunakan peralatan penelitian dan fasilitas yang ada. Kiprah Puspiptek telah menghasilkan teknologi dan inovasi yang menyelesaikan permasalahan aktual. Teknologi pertanian dan pangan merupakan salah satu fokus bidang penelitian yang dikembangkan di Puspiptek.

Nano edible film berbasis pati gembili dapat menjawab permasalahan akan pengganti pengemas untuk pangan, yang mampu digunakan secara aman, biodegradeble, halal dapat langsung dimakan serta aman bagi lingkungan (renewable). Inovasi pangan ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di kancah global sehingga Indonesia Jaya.

 


Like dan berikan komentar pada artikel ini, share juga tulisan ini, agar semakin banyak yang tahu tulisan ini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s