Mewujudkan Impian dengan Menabung

Sedikit-dikit lama-lama menjadi bukit.

Hemat pangkal kaya.

Kedua pepatah yang diajarkan di sekolah, kuamalkan sejak kupaham maksudnya. Jauh sebelum tahu cara menabung di bank, saya sudah belajar menabung kecil-kecilan sejak di bangku sekolah dasar. Receh demi receh rajin kusisihkan dari uang jajan, harapannya bisa menjadi kaya, hahaha. Walaupun belum tercapai kaya di usia kecilku, hal yang membuatku bangga dari menabung adalah saya berhasil membayar uang les Bahasa Inggris tanpa meminta kepada orang tua. Sebagai anak yang hidup dalam ekonomi pas-pasan, saya berusaha tidak merepotkan keduanya. Oh ya, tahu berapa biaya lesku? Hanya Rp 5.000. Maklum masih zaman serba murah. Uang jajanku saja Rp. 1.000 setiap hari, itu sudah bisa beli nasi goreng dan es lilin rasa-rasa. Masih sempat juga saya buat nabung.

Kala itu saya menabung di celengan plastik. Senangnya jika mendengarkan suara uang koin bergemerincing di dalamnya. Serasa musik unik, hahaha. Dan kebiasaan mengumpulkan receh masih kulakukan sampai sekarang.

IMG_20180801_102404.jpg
Celenganku sekarang dari kayu

Lalu menabung di bank kapan?

Saya akui sendiri, mengenal menabung di bank baru ketika masuk perguruan tinggi favorit.  Sebagai anak beasiswa, saya diberikan satu buku BNI Taplus Mahasiswa yang akan menerima uang ssaya setiap semester dari pemerintah. Melihat nama saya tercetak di halaman pertama, girangnya dan berseru namun dalam hati. Hei, ini buku tabungan pertamsaya! Membayangkan nominal-nominal angka akan datang di awal semester, tambah senang juga.

Tapi kemudian saya sadar, jatah uang ssaya tersebut jika dibagi untuk menghidupiku setiap bulannya hanya cukup untuk uang makan saja. Belum kebutuhan lainnya. Bukannya biaya hidup di kota sangat mahal? Bayar kos juga. Saya pun berpikir bagaimana merencanakan masa depan keuanganku tanpa membebani orang tua. Lagipula aku berkeinginan mengirim uang ke rumah.

Kerja sampingan menjadi solusi untuk menambah keuangan. Sekali pernah mencoba menyebar brosur, bekerja sebagai MLM, tidak kuteruskan karena mentalku tidak cocok sebagai sales, hahaha. Lalu berjualan pulsa, namun pendapatan yang sedikit, ujungnya habis dibuat makan. Akhirnya tidak ada yang bisa memberi pemasukan yang nyata. Hingga saya dipertemukan dengan kelompok ilmiah lembaga fakultas, dari sana saya belajar menulis karya tulis ilmiah. Tidak disangka-sangka dari menulis, saya memenangkan kompetisi dan mendapatkan hadiah uang.

Impian yang berhasil kuwujudkan dengan menabung

Akhirnya saya bisa memiliki laptop dan smartphone. Mungkin orang lain beranggapan, anak beasiswa kok bisa beli barang mewah? Hmm, nggak tahu aja gimana perjuangannya. Saya terus belajar mengelola apa yang kumiliki sekarang. Pembagi keuangan dengan membayar uang kos, makan harian, buku, dan sisanya untuk menabung. Menghemat pengeluaran dan tidak kerap menarik transaksi di mesin ATM. Dalam keseharian, saya lebih suka mempunyai uang cash di dompet dalam jumlah sedikit. Maklum, setiap melihat uang, saya seperti ingin segera menghabiskannya, hahaha. Ya, saya belajar hidup tidak konsumtif agar tidak menjadi pribadi yang boros. Tentunya ada tujuan yang ingin saya raih dengan menabung.

Dari pundi-pundi hadiah yang kutabung, dua item gadget yang sangat kuinginkan itu ada di tangannya. Penting banget loh khususnya membangun dalam hal belajar dan berorganisasi. Tanpa smartphone sering saya ketinggalan informasi dalam fakultas yang ter-share di line. Diskusi lembaga yang kerap dilakukan di group whatsapp pun saya tidak tahu menahu. Ujungnya tahu pun ketinggalan belakangan. Dan kini memiliki laptop pribadi, alhamdulillah bisa meningkatkan skill menulis dan bersemangat berkompetisi.

11005218_710791239019981_1803238749_n.jpg
Inilah laptopku

Saya merasa aman memiliki dana cadangan yang sewaktu-waktu dibutuhkan. Kejadian tidak terduga terjadi ketika proposal pengajuan dana untuk mengikuti kompetisi di luar kota kurang sepenuhnya dibiayai oleh dekanat maupun rektorat. Bernekad tetap berangkat, saya dan tim berusaha menutupi kekurangan dengan dana pribadi. Namun bukan perkara mudah karena biaya perjalanan dari Malang ke Universitas Hassanudin-Makassar sangat mahal. Salah seorang anggota tim, mengajak menggunakan moda transportasi kapal. Lebih murah ketimbang naik pesawat. Benar sih murah, tapi melelahkan harus terkatung-katung di lautan lebih dari sehari. Kuyakinkan untuk memilih naik pesawat yang lebih cepat dan tidak menguras tenaga, apalagi kan ke kampus tersebut harus presentasi. Kukatakan kembali saya memiliki tabungan yang bisa dipakai, InsyaAllah bisa diganti kalau juara. Alhamdulillah, mereka setuju. Asal tahu saja, naik pesawat itu pengalaman pertama saya.

Tidak hanya sekali ketika akan berangkat lomba harus menggunakan uang pribadi untuk menutup kekurangan. Alhamdulillah kemudian satu per satu kota yang belum saya jamah dapat saya kunjungi. Berkarya sambil traveling namanya kan, hahaha.

13258865_1036104819798736_54596907_n.jpg
Tour Museum Gajah dalam rangkaian acara Kepemudaan Nasional ‘Indonesian Culture Nationalism 2016’ . Saya perwakilan Jawa Timur.
12093276_765043126956851_259524276_n.jpg
Sepulang dari acara Asia Pacific Urban Youth Assembly 2015

Memiliki simpanan uang itu penting karena sudah menjadi salah satu kebutuhan utama bagi individu dan keluarga. Namun menabung di tempat yang aman itu lebih penting. Tepatnya di bank. Lembaga terpercaya yang memperoleh izin dan diawasi oleh pemerintah dalam pengelolaan keuangan. Apalagi yang nominalnya di atas ratusan ribu rupiah bahkan miliaran juta, wajib banget disimpan di bank. Beresiko kalau uang banyak di simpan di dalam rumah.

Teringat berita yang pernah hangat di kampung tetangga saya. Ketika itu saya makan siang di warung makan kecil pinggir pesawahan, diam-diam kucuri dengar percakapan si ibu pemilik tempat dengan seorang pelanggan.

“Kasian. Coba saja kalau disimpan di bank, dia nggak akan rugi.” Kata ibu tersebut.

Topik pembicaraan semakin seru rupanya, orang lain yang tampaknya warga setempat juga ikut nimbrung menambahkan cerita. Usut punya usut, tiga hari yang lalu, kampung tersebut digegerkan oleh kebakaran yang menghanguskan rumah salah satu penduduk. Pak Kadiman, si empunya rumah, berniat meninggalkan rumah sebentar. Namun nyatanya dia pergi terlalu lama karena ada kenalan yang ditemuinya di tengah jalan. Pak Kadiman bahkan tidak ingat jika sebelum keluar rumah, dia menghangatkan sayur dalam panci di atas kompor api. Pulang-pulang, dia mendapati kobaran si jago merah melahap rumahnya yang sebagian terbuat dari kayu. Suatu yang cepat terlintas di kepalanya adalah lembaran-lembaran rupiah yang diletakkannya di bawah kasur. Yang katanya nominal mencapai jutaan. Naas tidak dapat ditolak. Pak Kadiman terlambat menyelamatkan barang berharganya.

Benar si ibu warung makan, coba saja kalau laki-laki tersebut menyimpan uang di bank. Kalaupun dia mendapat bencana seperti kebakaran yang menimpanya, setidaknya dia memiliki uang yang tersimpan aman yang bisa menutupi kerugiannya atau modal menata kehidupannya kembali. Pak Kadiman menceritakan kepada tetangga-tetangganya bagaimana dia menyisihkan uang Rp 30.000 setiap hari dari penghasilannya sebagai pengemudi ojek online. Sayangnya nasi sudah menjadi bubur. Dia tidak bisa menuntut ganti atas hangus uang miliknya.

Yang jadi pertanyaan di sini. Kenapa dia merasa aman menyimpan uang sebanyak itu di rumah? Berkaca pada pengalaman tersebut menunjukkan bahwa masih ada masyarakat yang pola pikirnya untuk menabung di bank begitu rendah. Belum semua orang memanfaatkan jasa perbankan untuk menyimpan uang. Global Financial Inclusion Index 2017 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia yang melek dunia perbankan hanya 48%. Dibandingkan negara tetangga, Malaysia (85%), Thailand (81%), Singapura bahkan mencapai 98%, Indonesia masih kalah jauh. Padahal, tabungan menjadi salah satu  bentuk kontribusi masyarakat pada pembangunan bangsa ini.

IMG_20180801_102451.jpg
Buku tabunganku

Mempercayakan simpanan uang kepada bank yang memiliki izin beroperasi di Indonesia, tentu saya memiliki alasan hingga saat ini saya punya lebih dari satu tabungan. Karena kini sudah bekerja, aku memerlukan rekening khusus gaji selain tabungan, kebutuhan sehari-hari, dan cadangan lain.

Apa yang Membuatku Senang Menabung di Bank?

  1. Keamanan Terjamin

Di dalam bank terdapat brankas yang terkunci dengan kode rahasia yang menjaga uang dengan sangat aman. Ini yang menenangkanku. Uang juga aman dari kejadian seperti yang menimpa Pak Kadiman ataupun pencurian maupun uang yang dimakan rayap. Selain itu, dengan menabung, saya bisa membantu orang lain yang membutuhkan pinjaman.

Selain itu pemilihan bank yang saya ikuti tentunya setelah memastikan bank tersebut tergabung dalam Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang jelas terjamin keamanannya. Jadi apabila bank tempat menabung mengalami resiko pailit, ditutup ataupun dampak krisis, maka simpanan uang tetap bisa diambil karena dijamin oleh LPS.

31524870_1715589061853751_328889238110076928_n.jpg
instagram.com/LPS-idic

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) adalah lembaga pemerintah yang menjaga kepentingan atau hak masyarakat yang menabung di bank. Tujuan dari didirikannya lembaga ini antara lain adalah untuk melindungi semua simpanan yang berasal dari berbagai kalangan nasabah dan juga merupakan sebuah lembaga yang akan menjamin perbankan di Indonesia. Suatu bank yang terdaftar dalam LPS dapat diketahui dari keberadaan stiker logo LPS dan bertuliskan ‘Bank Peserta Penjaminan LPS’ yang terpasang di pintu masuk bank, itu juga kujumpai pada bank tempatku menabung.

36971450_266297383950392_2024536854782541824_n
instagram.com/LPS-idic

Sampai saat ini semua bank konvensional dan bank syariah yang memiliki izin beroperasi di Indonesia telah menjadi peserta penjaminan LPS. Total ada 1.891 bank dari 115 bank umum dan 1.776 BPR. Nilai simpanan yang dijamin oleh LPS maksimal sebesar Rp 2 Miliar per nasabah per bank. Simpanan yang dibayar tentu saja adalah simpanan yang memenuhi “syarat layak bayar” penjaminan dengan ketentuan yang dikenal dengan “3T”, yaitu:

  • Tercatat dalam pembukuan bank
  • Tingkat Bunga yang diperoleh tidak melebihi bunga yang ditentukan LPS (pembatasan bunga tidak berlaku untuk simpanan di Bank Syariah)
  • Tidak ikut menyebabkan bank menjadi gagal (misalnya memiliki kredit macet).
33838762_186707665364513_2763526127413624832_n.jpg
instagram.com/LPS-idic

 

  1. Mudahnya bertransaksi

Dengan memiliki rekening tabungan, saya bisa menyetor uang maupun mengambilnya ketika kebutuhan mendadak melalui ATM non-tunai ataupun teller bank. Tidak khawatir apabila bank tutup di hari libur, saya bisa pergi ke ATM tanpa harus mengantri. Apalagi lingkungan kampus saya memiliki akses dekat dengan bank dan ATM, yang membuatku tidak bermalas mendatangi. Selain itu, saya gampang melakukan transfer seperti untuk biaya kompetisi sebagai pendaftaran. Hanya melalui internet banking, pengiriman uang tidak pernah lewat melebihi waktu deadline yang ditentukan panitia kompetisi. Transaksi menjadi mudah bisa dilakukan kapan saja setiap saat dan dimana saja.

  1. Fasilitas Keuangan yang Praktis dan Simple

Tidak hanya buku tabungan, sebagai nasabah bank saya juga diberikan fasilitas berupa kartu simple yang mudah digunakan untuk keperluan transaksi. Memiliki uang tunai dalam jumlah banyak tidak merepotkan dibawa bepergian, cukup dengan kartu tersebut. Nyaman untuk dibawa. Contohnya ketika sedang berkompetisi di luar kota, mendadak uang di dompet kurang, saya pun mencari mesin ATM dan mudah melakukan penarikan uang hanya dengan kartu debit.

  1. Laporan Keuangan Lebih Terencana

Dengan melihat rincian-rincian dalam buku tabungan yang diberikan bank, saya bisa mengetahui jumlah uang yang masuk dan keluar. Dari sini saya bisa merencanakan keuangan dengan laporan ini, memprioritaskan penggunaan uang dari waktu ke waktu.

 Bagaimana? Apakah rencana keuangan masa depan anda sudah bersama LPS? Apabila Anda ingin simpananannya dijamin oleh LPS berikut langkah-langkahnya:

  1. Memeriksa saldo tabungan kita di bank (rekonsiliasi) dengan cara mencetak buku tabungan secara periodik (misal: sebulan sekali), hal tersebut juga dapat mengurangi kemungkinan ketidakcocokan catatan kita dengan bank.
  2. Cek bunga LPS di www.lps.go.id dan di bank, selanjutnya minta ke bank agar bunga yang diberikan tidak melebihi bunga penjaminan LPS.
  3. Tidak punya kredit macet, dengan cara lunasilah kewajiban tepat waktu.
28428173_1638850436184650_8661055750023413760_n.jpg
instagram.com/LPS-idic

Apapun pilihan bank tempat menabung, LPS tetap menjamin simpanan kita. Bagi saya, menabung itu menyenangkan. Dengan menabung, saya tidak takut bermimpi mewujudkan keinginan saya. #AyoMenabung

2 thoughts on “Mewujudkan Impian dengan Menabung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s